Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

Senin, 25 Juni 2012

Manfaat Positif Menghargai Pertemanan, Profesi, Pekerjaan, dan Bisnis Orang Lain



Saya tergerak menulis artikel ini didorong oleh perasaan galau melihat reaksi negatif berlebihan yang ditunjukan oleh sebagian orang jika berinteraksi atau berhubungan dengan orang-orang yang memiliki pekerjaan, profesi, atau yang menekuni bisnis tertentu. Ada yang tadinya teman akrab, tiba-tiba jadi saling jaga jarak karena salah satunya selalu berusaha menghindar. Ada yang bersaudara, menjadi seolah-olah tidak mempunyai hubungan apapun karena adanya perbedaan pemahaman, dll.
Saya tidak akan mengatakan “ini betul” atau “itu salah”. Saya hanya ingin menceritakan sedikit pengalaman bagaimana saya bereaksi dan bersikap saat berinteraksi dan berhubungan dengan orang dengan profesi/pekerjaan/bisnis tertentu yang oleh sebagian orang tadi diperlakukan sebagai “sumber penyakit” atau “sumber alergi dadakan” yang harus dihindari sejauh mungkin, meski itu adalah teman atau saudaranya sendiri. Lalu bagaimana saya bisa mendapatkan manfaat positif dari sikap dan perlakuan yang saya tunjukan. Karena pada kenyataannya, meski tidak seluruhnya benar-benar saya ikuti, interaksi dan hubungan saya dengan mereka telah memberikan perubahan dan manfaat positif yang sangat besar dalam perjalanan kehidupan saya maupun perkembangan karakter & perilaku saya.
Pekerjaan, profesi, atau bisnis yang saya maksud tersebut yang saya ambil sebagai “sample” diantaranya: Pelaku Bisnis Multi Level Marketing (MLM)Agen Asuransi Jiwa, para Sales Produk maupun Sales Jasa, dan terakhir para pelaku Bisnis Investasi & Bisnis Online Internet (termasuk bisnis forex/valuta asing). Cukup ini saja dulu yang perlu Anda ketahui, meski masih banyak dari bidang yang lain.
Sejak kecil saya sudah memiliki sifat keingintahuan yang kuat, terutama jika menyangkut hal-hal baru yang menarik minat saya namun belum saya ketahui secara pasti atau baru saya dengar kabar “katanya” saja. Sesuatu hal yang orang lain katakan buruk/jelek atau tidak berguna tidak akan saya percayai begitu saja jika saya belum mengalami atau mendalaminya sendiri.
Tentu saja saya punya perhitungan atau pertimbangan tertentu mengenai hal ini. Jadi, tidak karena ingin mengalami sendiri lantas main “terjun” saja. Ada pertimbangan, jika bisa dipertimbangkan secara logika harus ada bukti yang bisa menguatkan dan bisa dipertanggungjawabkan sumbernya.  Jika tidak ada, barulah saya bereksperimen dengan terlibat/terjun langsung di dalamnya.

Inilah sebagian kecil ringkasan daftar reaksi interaksi saya dengan orang-orang dengan pekerjaan, profesi, dan pelaku bisnis yang saya sebutkan di atas berikut dengan manfaat positif yang saya peroleh:

Tidak pernah serta merta menolak secara mentah-mentah undangan langsung dari orang lain untuk mengikuti acara Business Opportunity Presentation (BOP) alias acara pengenalan bisnis dari suatu perusahaan yang bergerak di bisnis jaringan apapun.

Tentu saja dengan syarat: waktu dan tempatnya memungkinkan saya untuk bisa hadir. Meski sebenarnya saya tahu bahwa saya diundang ke acara tersebut untuk diprospek secara “massal”. Harapan mereka yang mengundang adalah bahwa saya akan terpaksa ikut bergabung karena tidak enak sama yang mengundang. Pada kenyataannya saya tidak segan-segan mengatakan “Tidak” setelah acara BOP tersebut selesai jika memang tidak sejalan atau tidak sesuai dengan pikiran atau keinginan saya. Ketegasan untuk mengatakan “Ya” atau “Tidak” ini seringkali meninggalkan kesan sikap seseorang yang berpendirian, dan ini sulit untuk mereka lupakan jika disertai alasan-alasan yang masuk akal, tidak mengada-ada, dan “mengena”.
Pada pertemuan atau interaksi berikutnya seringkali sayalah yang malah berhasil membawa mereka untuk ikut menekuni bisnis yang saya jalani, minimal mereka menjadi bagian dari asset saya untuk masa depan. Dari acara BOP-nya sendiri banyak ilmu-ilmu & ide-ide baru yang bisa saya ambil.
Seperti misalnya: bagaimana cara mempresentasikan suatu produk atau sistem bisnis yang berbeda, menambah teman baru (sebisa mungkin saya akan tinggalkan kartu nama), berbagi pengalaman dalam memprospek orang, dll. Yang datang di acara BOP kan banyak, sayang sekali kalau kita cuma datang, duduk manis, mendengarkan presentasi atau membisu saja. Di kiri-kanan kita kan manusia yang bisa diajak bicara dan punya kebutuhan hidup. Bisa jadi kita punya apa yang dibutuhkan orang yang kita ajak bicara.:)

Tidak menutup diri/membatasi/membentengi diri tanpa alasan yang jelas saat diajak membicarakan atau mendiskusikan suatu produk atau suatu sistem bisnis perusahaan lain, apapun cara dan medianya.

Kecuali orang tersebut belum mandi dan belum gosok gigi saat berbicara langsung dengan saya tentunya. Setidaknya dari diskusi yang terjadi telah menambah pengetahuan dan wawasan saya dalam berbisnis dan berwirausaha, meski pada kenyataannya seringkali jalan pikiran saya tidak sejalan dengan jalan pikiran orang yang mengajak saya berdikusi tersebut.
Dari perbedaan yang ada pun saya bisa belajar bagaimana bersikap terhadap suatu perbedaan yang bisa muncul kepada siapa pun dan di mana pun. Ini seringkali terjadi ketika saya diprospek secara face to face.

Selalu tetap menjaga komunikasi dan memelihara interaksi pertemanan dengan tetap berhubungan dengan mereka apapun kondisinya saat itu dan kondisi yang terjadi sebelumnya.

Ini saya alami saat keluar-masuk dari satu MLM ke MLM yang lain dan berpindah dari perusahaan asuransi jiwa yang lama ke perusahaan asuransi jiwa yang baru. Begitu juga saat saya memutuskan untuk berhenti sebagai karyawan tetap pada tahun 2008 silam, dan memutuskan untuk full berbisnis dan berwirausaha mandiri.
“Tempatnya” memang saya tinggalkan, tapi orang-orangnya tetap saya hubungi dan temui. Saat senang atau susah mereka tetap saya temui, dengan sesekali memberi bantuan kecil sesuai kemampuan. Tidak ada kata-kata: “siapa lu siapa gue” meski saya sedang berada di suatu keberhasilan. Hal yang mereka utarakan kepada saya kemudian adalah (ini bahasa formalnya): “kamu memang teman dalam segala keadaan dan suasana”.
Hingga kemudian datanglah masa susah menghampiri saya (kalau boleh dibilang: jatuh nyungsep dan hancur lebur), yang mengakibatkan saya tidak dapat menghubungi atau menemui mereka dalam waktu yang sangat lama karena tidak punya sarana komunikasi (dijual) dan uang pun hanya bisa untuk beli makan pengganjal perut sekedarnya saja. Merekalah yang mencari tahu keberadaan dan kondisi saya.
Dan ketika mereka berhasil menemui saya di rumah, mereka melihat kondisi saya yang sangat memprihatinkan bagi mereka. Setelah menanyakan apa saja yang saya butuhkan, tanpa banyak bicara mereka urunan memberi bantuan secara sukarela kepada saya. Bantuan tepat guna pun sampai ke tangan saya. Singkat kata, saya bisa kembali merintis bisnis saya untuk mencari uang. Alhamdulillah.

Tidak mudah menjatuhkan vonis negatif yang bersifat menghakimi secara berlebihan atau sepihak, apalagi sampai disebarkan ke orang lain melalui cara dan media yang salah! Pikirkan jika Anda yang diperlakukan sama seperti itu!

Dahulu kala, keluar masuk-nya saya dari satu bisnis MLM ke bisnis MLM yang lain tidak hanya karena saya tidak sukses di berbagai MLM yang pernah saya ikuti tersebut. Tapi lebih mengarah ke hal yang lebih prinsip (bacanya: idealis). Begitu juga ketika saya memutuskan untuk kembali ke dunia bisnis asuransi jiwa dari seorang wirausahawan & pebisnis online yang home alone, tapi tidak kembali ke perusahaan yang lama, melainkan ke perusahaan asuransi jiwa yang baru dengan banyak alasan dan pertimbangan.
Namun tidak lantas membuat saya menjatuhkan vonis negatif akibat kegagalan & ketidakberuntungan saya di tempat-tempat lama yang saya tinggalkan tersebut, apalagi sampai cuap-cuap secara berlebihan di media yang dapat diakses oleh orang banyak. Kesempatan berusaha & berpenghasilan adalah hak semua orang.
Yang saya pikirkan adalah: bagaimana tanggungjawab saya nanti jika vonis negatif saya yang diakses banyak orang berakibat menutup kesempatan orang lain untuk berusaha & berpenghasilan?
Bagi saya, mengingatkan orang untuk waspada dan hati-hati adalah perbuatan yang sangat mulia. Tapi cara & medianya harus tepat dan sesuai. Apalagi jika menyangkut nama baik dan kredibilitas suatu perusahaan yang sudah dapat dipastikan banyak sekali orang yang menggantungkan hidupnya di sana!

Berusaha mencari tahu manfaat lain yang bisa diperoleh dari pertemanan yang ada di luar dari profesi/pekerjaan/bisnis orang tersebut. Kata kuncinya: Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu atau keadaan yang tidak berguna bagi umat manusia di dunia ini.

Kebiasaan ini memberikan keuntungan lebih pada saat saya memutuskan kembali ke dunia bisnis asuransi jiwa. Karena rata-rata orang yang saya temui belum punya produk asuransi jiwa yang dapat memberikan mereka jaminan perlindungan masa depan bagi dirinya maupun bagi keluarganya secara menyeluruh dan mendasar. Rata-rata yang sudah mereka punya adalah asuransi kecelakaan dari SIM atau jaminan kesehatan terbatas dari kantor atau tempatnya bekerja saja.
Tidak ada persiapan dana pendidikan anak yang terjamin/terproteksi, tidak ada dana pensiun yang terjamin/terproteksi, tidak ada jaminan biaya kesehatan saat mereka tidak mampu lagi bekerja/berpenghasilan, dll. Dari kebiasaan ini pula saya tahu bahwa melalui bisnis asuransi jiwa-lah saya bisa enjoy dalam mendapatkan penghasilan sekaligus berbagi kesempatan kepada orang lain untuk mendapatkan jaminan masa depannya yang lebih baik, siapapun dan apapun profesi/pekerjaan orang tersebut. Yang selalu saya ingat: “ Tuhan tidak akan merubah nasib suatu kaum hingga mereka berusaha/berikhtiar untuk merubahnya”. Do’a dan iktiar, itulah istilahnya.
Saat di dalam hati bertekad atau berniat untuk berusaha, maka itu adalah awal dari sebuah do’a kepada Tuhan. Maka kembalilah saya menekuni bisnis asuransi jiwa, dengan harapan; sambil mencari uang untuk menafkahi keluarga saya bisa menjadi jembatan bagi orang-orang yang sedang berikhtiar/berusaha. Wallahu’alam.

Sebagai penutup, hal-hal di atas hanyalah sebagian kecil sikap dan perlakuan saya kepada siapapun dan apapun profesi atau pekerjaan yang dimiliki oleh seseorang. Yang lainnya bisa Anda ikuti di berbagai artikel saya yang lain di media web ini.

Semoga bermanfaat! Amin Ya Robbal ‘Alamiin.

0 komentar:

Poskan Komentar