Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

Sabtu, 16 Juni 2012

Hikmah di balik bukit Ajun Makkah, sebuah Filosofi Pelaksanaan Umroh.



Memahami hikmah atau nilai-nilai falsafah ibadah Umroh menjadi keniscayaan bagi kita yang akan dan sudah melaksanakannya. Hal itu dimaksudkan agar gerak ibadahnya dapat berpengaruh terhadap perilaku kehidupan sehari-hari. 

Dengan semangat berbagi kebaikan dalam bingkai Persahabatan dan Persaudaraan, berikut ini saya sampaikan mengenai makna atau falsafah ibadah Umroh yang merujuk kepada salah satu karya seorang Rausyanfikr, Ali Syari'ati dalam karyanya berjudul ”Haji”.
Dalam karya ini, dia memaknai simbol-simbol yang terdapat dalam rangkaian ibadah haji dengan mengungkap nilai-nilai moral yang dikandungnya. Selamat menelaah dan menghayatinya.

1. Pakaian Ihram

Ketika jamaah haji atau umroh sampai di Miqat, mereka mengenakan pakaian lhram, dengan kaki telanjang tanpa terkecuali. Pakaian ini berwarna putih, tidak berjahit dan bahan dasar kainnya pun sangat sederhana. Meskipun di antara mereka ada yang kaya raya, tetapi tidak diperkenankan memakai pakaian sutra.
Perintah ini mengingatkan kita akan keberadaan manusia yang tidak memiliki apa-apa.
Kelak manusia meninggal dunia, tidak membawa harta apa pun kecuali sehelai kain kafan yang berwarna putih dan tanpa alas kaki.

Pakaian ihram berwarna putih yang melambangkan kesucian dan kesederhanaan. Ketika pakaian ini dipakai, maka buanglah segala sifat kesombongan, keangkuhan, ego dan segala penyakit hati yang merusak.

Pakaian adalah lambang perbe­daan. Seringkali manusia melihat perbedaan seseorang karena pakaian yang dikenakannya. Saat berpakaian ihram, semua perbedaan hancur lebur, yang tersisa adalah persamaaan. Persamaan dalam aqidah yang melahirkan ikhwah (persaudaraan).

Sahabat, dapat kita bayangkan kedahsyatan simbol pakaian ihrom kan ?
Didalamnya bermakna bahwa kita adalah manusia yang tidak punya apa-apa sehingga kembali menghadap Allah hanya berselimut kain kafan saja.

2. Thawaf dan Ka'bah

Salah satu rukun haji atau umroh yang terpenting adalah thawaf. Thawaf adalah mengelilingi Ka'bah sebanyak tujuh kali. Ka'bah menjadi inti dari perputaran tersebut. Ka'bah merupakan kiblat umat Islam diseluruh penjuru dunia. Apa istimewanya ka'bah ? Sepintas, tidak ada keis­timewaannya. la hanya berbentuk kubus yang memiliki enam sisi dan kosong yang tersusun dari batu-batu hitam dari Ajun (bukit-bukit di dekat kota Mekkah). Tidak terdapat nilai arsitektur, seperti lukisan, ukiran dan sebagainya.

Namun jika ka'bah direnungkan, enam sisi yang ada merupakan lambang bahwa Islam itu universal. Sebab, enam sisi ka'bah menghadap ke segala arah. Kemudian ka'bah melambangkan ketetapan (konstan), sebab dia hanya diam. Sementara manusialah yang bergerak (aktif) mengitari Ka'bah.
Ka'bah ibarat Matahari, manusia ibarat planet yang mengitari matahari tersebut, mengandung arti bahwa Allah-lah pusat eksistensi yang menjadi titik fokus dari dunia yang fana ini. Sementara manusia mesti bergerak, beraktivitas, berbuat dan bersikap mesti berpusat kepada kehendak-Nya. Apapun perbuatan dan gerak manusia hanya untuk-Nya, tidak boleh bertentang dengan ajaran-Nya.

Disinilah terlihat eksistensi manusia yang harus bergerak dan berbaur dengan manusia lain secara bersama dengan mengenakan pakaian ihram secara disiplin. Jika seseorang diam, tidak bergerak, maka pada hakekatnya ia telah mati, bukan manusia yang sesungguhnya melainkan jombi-jombi yang berjalan. Dalam kebersamaan gerak ini, tak ada konsep "Aku", tak ada "Egoisme pribadi", tak ada konsep "Individualistis”, yang ada hanya konsep "Kita”, atau "Ummah". Konsep "Aku" seketika berubah menjadi "Kita" untuk menghampiri Allah SWT.

Pelaksanaan thawaf bermula dari Hajar Aswad. Disana juga terdapat Hijir Isma'il. Simbol ini mengingatkan kita kembali tentang Siti Hajar, istri Nabi Ibrahim. Hajar adalah sahaya yang berkulit hitam dari Ethiopia yang diperistri Ibrahim. Karena kecintaannya kepada Allah, Hajar akhirnya menjadi nama yang melekat dan sangat berpengaruh dalam rangkaian ibadah haji atau umroh. Meskipun ia hanya hamba sahaya yang berkulit hitam bisa jadi dinilai orang hina, tetapi dengan iman dan cinta yang dimilikinya mengangkat dirinya menjadi mulia di sisi Allah. Lagi-lagi, simbol ini memberikan pesan moral kepada umat manusia, bahwa sehina apapun seseorang di mata manusia, tetapi dengan "Keimanan dan Kecintaannya kepada Allah SWT akan mengangkat derajatnya menjadi mulia di sisi-Nya, bahkan di mata manusia sesudahnya.
"Maka jangan mudah merendahkan, menghina maupun memperolok saudara sendiri".

Thawaf dilakukan sebanyak tujuh kali putaran. Angka tujuh ini mengi­ngatkan kita kepada tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi. Artinya, manusia adalah wakil Allah di muka bumi (khalifah fi ardhi), yang bertanggung jawab mengelola alam semesta ini, memanfaatkan semua potensi yang ada, tetapi bukan mengeksploitasinya.

3. Sa'i antara Safa dan Marwa

Sa'i merupakan sebuah pencarian. lbadah ini memiliki nilai historis tersendiri, dimana siti Hajar yang terlantar dan terbuang di antara hamparan padang pasir, tanpa pepohonan dan air sebagai sumber kehidupan. Sementara ia mesti tetap hidup, terlebih lagi ketika melihat buah hatinya Isma'il. Seketika ia letakkan anaknya dan ia pun berlari-lari dari bukit safa hingga marwa secara berulang-ulang untuk mencari sumber kehidupan, yaitu Air. Usaha yang dilandasi cinta kepada Allah itu tidaklah sia-sia. Ketika ia melihat anaknya yang menghentak-hentakkan tumitnya ke bumi, memancar air suci sebagai sumber kehidupan yang selanjutnya menjadi telaga zam-zam.

Sa'i adalah lambang perjuangan fisik, perjuangan mencari hal-hal yang dapat memenuhi kebutuhan-kebutuhan dari alam. Jika pada thawaf, lebih melambangkan gerak atas kecintaan manusia kepada al-Khaliq, bersifat spritual. Sebaliknya pada sa'i lebih melambangkan gerak atas upayanya dalam memenuhi kebutuhan hidup secara material. Pada thawaf yang menjadi inti adalah "Dia" (hanya Allah). Sedangkan pada Sa'i yang menjadi intinya adalah "manusia" itu sendiri.

Sahabat... Layaknya sebagai orang yang sudah melaksanakan Sa'i dan Thawaf dengan berpakaian Ihram terlahir seseorang yang memiliki cara pandang bahwa Islam adalah Universal, Islam adalah Persamaan dan Persaudaraan. Sementara secara Spiritual, seorang yang bertauhid harus istiqomah berkeyakinan, bergerak dan berprilaku hanya kepada Allah dan Untuk Allah. Disisi lain, sebagai Muslim harus aktif, dinamis dan kreatif dalam melaksanakan tujuan penciptaannya sebagai Abdullah dan Khalifatullah fil Ard.
"Tidak ada kamusnya dalam Islam,"Hasil tanpa Proses" sekalipun Nabi atau Isteri para nabi (lihat saja, perjuangan siti Hajar dan Nabi kita, Muhammad shallallhu 'alaihi wasalam).

Wallahu a'lam bisshowab.
Semoga bermanfaaat. 

0 komentar:

Poskan Komentar