Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

Jumat, 15 Juni 2012

Dialog Imaginer Sang Perantau dari Negeri Padang Pasir.


Sebuah Refleksi Perjalanan hidup yang saya Persembahkan untuk Guru dan Orang Tua Saya, Bapak H. Udin Koswara, SH.MM


Angin laut palabuhan ratu berhembus tidak terlalu kencang menerpa pohon kelapa yang berbaris rapi di pinggir pantai. Udara malam yang sejuk dan suasana sunyi menambah rasa nyaman dan relax untuk duduk santai melepas beban pikiran dan lelah fisik di sebuah hotel seberang pantai Citepus Palabuhanratu; Hotel Cleopatra.
Entah apa latar belakangnya, hotel itu diberi nama seorang Ratu legendaris dari mesir; Cleopatra.

Hotel itu milik Bapak H. Udin Koswara SH.MM, beliau adalah mantan walikota Sukabumi yang sebelumnya sempat menjadi SEKDA Kabupaten Sukabumi pada sekira tahun 1980-an. 
Setelah pensiun dari kegiatan Birokrasinya, beliau tidak lelah untuk membaktikan diri dan potensinya demi pembangunan bangsa dan negara, terbukti dengan serangkaian kegiatan politik yang dijalankannya. 
Dalam kancah politik, beliau dipercaya untuk menjadi Ketua salah satu Parpol di tingkat Jawa Barat. Nah, melalui Parpol inilah Kaderisasi Politik bagi kaum muda dijalankannya dan berhasil dengan gemilang. Salah satunya dengan membangun kerangka berpikir Politik yang santun dan bermartabat sesuai dengan tatakrama orang timur dan sopan santunnya urang sunda yang silih asah, silih asih, silih asuh dan silih wangi, dengan tetap mempertahankan dzati diri bangsa.

Dalam bingkai Politik itulah, beberapa kadernya mampu merebut kursi anggota DPRD di tingkat Propinsi Jawa Barat dan Daerah Kabupaten/Kota pada Pemilu tahun 2004 yang lalu. 

Tampak terlihat di depan kamar hotel bagian depan, beberapa anak muda sedang khusuk mendengarkan pembicaraan seorang yang agak sepuh tapi terlihat energik; dialah Bapak H. Udin Koswara.

"Keadaan bangsa kita semakin parah saja setelah Reformasi," katanya sambil menghela nafas dalam-dalam. 
"Berbagai persoalan muncul di tingkat nasional maupun daerah, Kata kebebasan diartikan bertindak sebebas-bebasnya seolah-olah tanpa batasan. Dzati diri bangsa kita yang cinta damai, gotong royong, berkemanusiaan, saling menghormati antar umat beragama, berkeadilan, sepertinya sudah semakin pudar saja". Lanjutnya sambil pandangannya melihat ke pantai.

Kamar depan hotel yang berjejer dari timur ke barat memang strategis, bila kita kita duduk di berandanya akan langsung terlihat pemandangan pantai Citepus Palabuhanratu.

"Benar pak, padahal Gerakan Reformasi yang didengungkan Amin Rais didepan para aktivis mahasiswa itu ditebus dengan pengorbanan yang tidak sedikit; sampai nyawa mahasiswa pun menjadi tumbal karenanya tapi bagaimana kenyataannya ? Alih-alih mau memperbaiki Negara dan Bangsa pada kenyataannya malah sebaliknya," tutur salah seorang anak muda menanggapi.

"Itulah bukti kalau sebuah gerakan prematur, belum memiliki kesiapan konsep yang utuh dan paripurna eh...gerakannya terus dilakukan terkesan dipaksakan..." Kata temannya yang duduk disamping kiri menimpali.
"Coba lihat saja, Reformasi belum memiliki konsep yang jelas, platformnya juga jelas absurd maka logis kan bila berakibat seperti ini," lanjutnya dengan nada yang agak kesal.

"Iya... Sekarang sudah terlanjur, Reformasi sudah terjadi; orde ketiga setelah Orde lama dan Orde Baru di negara kita tercinta ini sudah berjalan. Kita tidak boleh menyalahkan masa lalu, lebih baik kita ambil positipnya dari semua Orde, baik Orde lama, orde baru maupun Orde Reformasi ini, hal-hal buruknya kita hilangkan dan berbagai kekurangannya kita perbaiki. Bagi kita sebagai generasi muda bangsa, bersikaplah dengan sikap kenegarawanan, bersemangat nasionalisme dan berpolitik dengan santun dan bermartabat; hindarkan prilaku politik yang arogan dan anarkis, pemaksaan ideologi partai kepada rakyat dengan cara demikian tidak baik kalau pun berhasil akan melahirkan para elit dan pejabat negara yang tidak punya sopan santun. Karena itu sudah keluar dari norma-norma Ke-santunan Politik ?" Kata beliau dengan nada yang tenang dan penuh wibawa.

Perbincangan diantara Bapak H. Udin dengan kader-kader mudanya terus berjalan dengan serius tapi santai, sesekali minum kopi disela-sela obrolan.

Malam pun semakin larut, kendaraan yang melintas di Jalan propinsi yang menghubungkan Palabuhanratu dengan banten yang berada persis depan hotel tampak sepi. Warung-warung pinggir pantai yang biasa menyediakan bakar ikan dan kelapa muda pun sudah banyak yang tutup. 
"Nah... sudah waktunya istirahat, besok kan di mulai acaranya pagi-pagi. sekarang pada tidur aja, assalamu 'alaikum," kata Pak H. Udin menutup obrolan sambil berdiri lalu pergi menuju kamarnya di sebelah belakang.

Memang besok harinya ada acara pendidikan politik buat para kader muda partai se-Jawa Barat. Dari berbagai kabupaten/kota di seluruh Jawa Barat akan hadir dalam acara tersebut. Mereka akan menginap di hotel itu selama 3 hari 2 malam dengan gratis termasuk makan dan minum mereka. Karena Bapak H. Udin Koswara sudah meniatkan diri sebagai bagian dari rakyat Indonesia akan berjuang tanpa lelah untuk memperbaiki bangsa dengan apa yang beliau miliki, salah satunya HOTEL CLEOPATRA ini. Beliau sudah niat bahwa Hotel ini akan digunakan untuk kepentingan pendidikan dan pembinaan kader-kader muda yang memiliki niat, semangat dan tujuan membangun bangsa ke arah yang lebih baik. Makanya para peserta dalam acara tersebut, tidak dibebankan apa pun, cukup dengan ketiga hal diatas.

Sungguh luar biasa, dengan kecerdasannya dalam berpolitik, visi ke-indonesia-annya yang original dan pengorbanan materialnya yang begitu tulus, beliau tampil sebagai tokoh Politik yang diakui oleh berbagai kalangan baik dari kalangan birokrasi maupun politik. 

Semoga semua kiprah Bapak H. Udin Koswara, SH,MM menjadi amal ibadah dihadapan Allah swt. Amiin Yaa Robbal 'alamiin. — 

0 komentar:

Poskan Komentar