Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

Kamis, 25 Oktober 2012

S.M. Kartosoewirjo Tak Ajukan Grasi


Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo dituduh melakukan tiga perbuatan: makar terhadap negara, pemberontakan terhadap pemerin­tahan yang sah, dan rencana pembunuhan Presiden Sukarno. Atas upayanya mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), Dari tiga tuduhan itu, hanya satu yang diakui oleh Kartosoewirjo, yaitu mendirikan negara Islam (makar). Tuduhan kedua (menggulingkan kekuasaan yang sah) dan ketiga (berencana membunuh Sukarno) dibantahnya. Ia divonis mati oleh pengadilan militer.

Kartosoewirjo dieksekusi setelah grasinya ditolak Presiden Sukarno. Namun, menurut anaknya, Tahmid Basuki Rahmat, ayahnya tak pernah mau meminta pengampunan kepada Sukarno. Pengacaralah yang berinisiatif mengajukan grasi itu.
“Pengacara, kalau tidak salah Mr. Wibowo, yang mengajukan grasi. Cuma ditolak presiden,” kata Tah­mid.
Vonis dijatuhkan pada 16 Agustus 1962. Sekitar awal September, sebuah mobil jip buatan Rusia sudah bersiap di Wisma Siliwangi. Mobil itu yang membawa istri dan anak-anak Kartosoewirjo ke Jakarta untuk dipertemukan terakhir kali. Rombongan berangkat subuh. Lewat Cianjur. Mereka tiba di Jakarta sekitar pukul 11.00 WIB. Menurut Danti, untuk masuk ke ruang pertemuan, ia harus berjalan di sebuah lorong yang di kiri-kanannya dipenuhi tahanan. “Orangnya gendut-gendut,” katanya. Rombongan tiba dulu di ruangan yang dipenuhi buntalan-buntalan berisi pakaian. Hawanya sangatpanas. Dewi membuka kerudung putih yang dipakainya karena gerah.
Setelah semuanya duduk, baru Kartosoewirjo dibawa masuk oleh tentara. Tahmid mengatakan, tentara yang berjaga sekitar 10 orang. Di antara mereka ada pasukan Tjakrabirawa, pasukan pengawal presiden. Selain mereka, hadir pula oditur, hakim, jaksa dan pengacara Kartosoewirjo bernama Mr. Wibowo.
Pertemuan keluarga itu di awal-awal berlangsung haru. Dewi menangis. Anak-anaknya pun ikut terisak. Lalu, mereka disuguhi makan siang oleh TNI. Semua makan, kecuali Kartosoewirjo. Menu makan siang itu adalah nasi padang, tetapi Tahmid mengaku lupa-lupa ingat. Kartosoewirjo hanya minum kopi dan menghisap rokok.
“Dagingnya keras. Sendok saya sampai patah,” kenang Tahmid.
Meski dijaga ketat, tetapi tentara yang berjaga umumnya berlaku ramah. Setelah makan siang selesai, kemudian oditur memberitahu vonis mati Kartosoewirjo dan ditolaknya grasi oleh presiden. Oditur lantas memberikan kesempatan kepada Kartosoewirjo untuk menyampaikan pesan-pesan terakhir.
Menurut Tahmid, Kartosoewirjo mengatakan kematian adalah keniscayaan. Dengan cara apa pun. Lalu, ia berpesan kepada anak-anak agar menjaga ibunya. Kedua, agar mereka menjadi mukmin dan mujahid yang baik. Ketiga, agar seluruh keluarga tidak jauh-jauh dari Siliwangi.
“Tidak ada pesan-pesan perjuangan DI/TII” ucapnya.
Pada saat itu, keluarga Kartosoewirjo meminta beberapa hal. Yakni, agar eksekusi mati disaksikan keluarga atau wakil keluarga. Kemudian, mayat Kartosoewirjo supaya diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan di Malangbong. Atau bila tidak, keluarga diberitahu di mana jasad Kartosoewirjo dikuburkan supaya bisa berziarah.
“Semuanya ditolak oleh Mahadper,” katanya. Meski kecewa, tapi keluarga Kartosoewirjo pasrah. Sekitar pukul 14.00 WIB, pertemuan diakhiri. Keluarga kembali ke Bandung via Karawang. Sejak saat itu, mereka tak tahu lagi apa yang terjadi. Dari koran, tersiar kabar bahwa eksekusi diundur. Namun, juga tak jelas kapan eksekusi itu dilakukan.“Sebulan lebih, tibalah pemberitahuan resmi dari Siliwangi kalau telah dieksekusi,” ucap Tahmid.
Berikut wawancara Irwan Nugroho dan M. Rizal dari majalah detik dengan Tahmid, putra ketiga Kartosoe­wirjo, di rumahnya, Kampung Bojong, Desa Cisitu, Malangbong, Garut, Jawa Barat, pekan lalu.
Tahmid mengenakan baju koko abu­-abu, sarung, dan sepatu kets. Di usianya yang ke­70 tahun, dia sering terkena vertigo dan beberapa kali stroke. Na­mun demikian masih jernih menceritakan kembali pengalaman bergerilya selama 12 tahun (1950-1962) serta mengingat pertemuan terakhir dengan ayahnya sebelum dieksekusi, akhir 1962.
Bisa diceritakan awal mula pertemuan (dengan Kartosoewirjo) itu?
Pada waktu itu kami ditampung di Kodam Siliwangi setelah turun gunung. Usia saya 20­-an, jadi sudah besar. Subuh itu sudah ada yang menjemput. CPM dari Kodam Siliwangi. Katanya diundang mau pergi ke Jakarta untuk pertemuan keluarga sehabis vonis. Vo­nisnya tidak tahu apa. Waktu itu perjalanan agak lama pakai jip. Berangkat lewat Cianjur. Sampai di Jakarta siang. Saya tidak ingat tanggalnya. Cuma sebelum hari H (eksekusi) itu.
Sampai ke situ, kalau tidak salah ini tempatnya di Kejaksaan Agung di Lapangan Banteng. Di situ, oditur, hakim, semuanya lengkap. Kita dikawal Tjakrabirawa dan CPM. Mahadper memberi tahu bahwa bapak su­dah divonis dan vonisnya hukuman mati.
Kemudian, menurut keterangan bapak saya, dia itu tidak mengajukan grasi. Pengacara, kalau tidak salah Mr. Wibowo, yang mengajukan grasi. Cuma ditolak presiden. Maka eksekusi akan dilakukan 5 September 1962. Jadi mungkin hari itu sebelum 5 September.
Terakhir kali bertemu bapak di mana?
Terakhir ya di Bandung, di Mess Perwira di Cium­buleuit. Itu cuma sekali bertemu. Setelah itu, ketemu lagi di Kejaksaan Agung, sekitar dua atau tiga jam siang itu.
Yang masih ingat, dia berpesan antara lain, harus menjaga ibu. Kedua, jadilah mukmin, muslim, dan mujahid yang baik. Kemudian, yang lainnya kalau tidak salah jangan jauh dari Siliwangi. Artinya harus bersama. Sebelum mengungsi ke gunung-­gunung, orang tua kami di sini (Malangbong), latihan Hizbullah dan Sabilillah di sini. Pelatihnya dari Siliwangi.
Waktu itu kondisi Kartosoewirjo bagaimana?
Sebenarnya dia mulai sakit ketika masih di gunung. Terakhir dia juga tertembak pada April 1962. Kemu­dian ditangkap 4 Juni 1962. Nah, ke Bandung diobati. Agustus sudah sembuh dan dibawa ke Jakarta. Kita tahu sudah sembuh itu dari Kodam Siliwangi. Dokter melapor kepada Pangdam Siliwangi, Ibrahim Adjie. Katanya Pak Karto sudah sehat, lukanya sudah sem­buh.
Ibrahim Adjie menangis waktu itu. Ditanya kenapa kok menangis? Kata Ibrahim Adjie, “Kalau sembuh bukan lagi wewenang saya. Berarti Pak Karto harus diserahkan ke Jakarta. Saya tidak bisa apa­-apa lagi.”
Waktu oditur menyampaikan Kartosoewirjo divonis mati apa reaksi keluarga?
Kami sedih. Tapi waktu itu kita sudah pasrah. Ini termasuk pesannya. Semua yang hidup ini mesti mati, dan itu merupakan risiko hidup. Kalau tidak mau mati ya jangan hidup. (Eksekusi) mau tidak mau harus dilalui. Itu proses dari manusia hidup kepada mati. Jadi semua pesan waktu itu masalah keluarga saja. Tidak ada masalah perjuangan.
Ibu Anda menyampaikan apa kepada Kartosoewirjo atau Oditur?
Ibu tidak bicara apa-­apa. Kakak saya yang bicara. Minta kepada Mahadper agar eksekusi ini disaksikan oleh keluarga. Kata Mahadper tidak bisa. Kalau tidak bisa seluruh keluarga ya wakilnya saja, itu pun tidak bisa. Katanya kalau tidak bisa, ya sudah mayatnya saja diserahkan kepada keluarga untuk dimakamkan keluarga. Itu juga tidak bisa. Yang terakhir kalau itu semua tidak bisa, nanti keluarga diberitahu saja di mana jenazah dikubur karena untuk berziarah. Itu pun tidak bisa.
Tidak lama kemudian dikirim barang-­barang: baju, jam, dan pipa rokok. Kami cuma diberitahu eksekusi sudah dilaksanakan. Tidak diberi tahu di mana jena­zahnya. Dikuburkan di mana tidak tahu.
Apakah keluarga mencari-cari di mana kuburnya?
Keluarga nggak terlalu mencari. Jelas sudah diku­bur, biar di mana saja, kalau berdoa ya sampai. Cuma tentu saja lebih afdal kalau melihat di mana kubur­nya. Dulu ada cerita-­cerita dikubur di Pulau  Onrust. Katanya ada plang “Di sini dimakamkan imam DI/TII Kartosoewirjo,” tapi saya dan keluarga belum ada yang pergi ke sana.
Sekarang keluarga sudah jelas masalah eksekusi. Tapi masih ada juga pertanyaan, karena waktu lalu keluarga mendengar dikubur di Onrust, sekarang di Pulau Ubi, ini mana yang benar? Bisa saja eksekusi di Ubi, dikuburnya di Onrust. Atau bisa juga eksekusinya di Onrust tapi disebut di Ubi.
Sebelum eksekusi, Kartosoewirjo salat tobat. Anda yakin salat tobat?
Salat tobat itu macam­macam. Ada salat tobat sesudah melakukan kesalahan, atau mung­kin merasa salah. Atau mungkin salat tobat itu peralihan keyakinan mi­salnya dari non­-Islam kepada Islam. Ada juga salat tobat itu memang harus terus­-menerus untuk membersihkan diri, karena manusia ini tempatnya salah. Nah salat tobat yang mana tidak tahu. Cuma, orang tua saya itu biasanya rutin salat tobat. Itu diturunkan kepada anak­-anaknya.
Mengapa Kartosoewirjo mendirikan DI/TII atau NII?
Ceritanya bapak saya itu pegang program tandhim dari Pak Cokroaminoto. Program tandhim itu setelah persatuan para pejuang seluruh Nusantara ini, harus dicapai Indonesia merdeka. Setelah Indonesia merdeka, perjuangan tidak boleh berhenti, yaitu mendirikan pemerintahan Islam.
Jadi umat Islam bangsa Indonesia harus siap menjadi pelopor tegaknya kembalikhilafah fil ardli. Makanya, setelah revolusi nasional itu harus ada revolusi Islam. Itulah titiknya. Tapi revolusi Islam ini harus dikawal pasukan dan tentara. Itulah akhirnya Hisbullah, Sa­bilillah, laskar-­laskar Islam, termasuk GPII, dijadikan Tentara Islam Indonesia (TII). Setelah itu Masyumi Jawa Barat menjadi lembaga perjuangan revolusi Is­lam yang disebut Majelis Islam.
*******

“Bapakku Di Mana Kuburmu?”

Aku sudah mencarinya ke mana-mana,
Namun belum juga membuahkan hasil
Kini kulitku mulai keriput, rambutku mulai beruban,
Dan tulang-tulangku mulai keropos… 
Namun Aku tak pernah merasa lelah…
Apalagi bosan, untuk terus menelusuri jejakmu..

~dari Sardjono Kartosoewirjo

0 komentar:

Poskan Komentar