Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

Minggu, 21 Oktober 2012

Al - IMAN


Adopted dari buku dasar-dasar Islam karya Abul a'la maududi
Edited by Asep Dwi Rahman


Setiap Muslim harus meyakini sepenuhnya bahwa karunia Allah yang terbesar di dunia ini adalah Diinul Islam.
Seorang Muslim akan senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah memasukkannya ke dalam kelompok Umat Muhammad Rasulullah saw dan telah memberikan kepadanya karunia Islam.
Allah sendiri telah menyatakan Islam sebagai karunia-Nya yang terbesar yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an:

“... Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhai Islam itu agama bagimu ..."(Qs. al-Maidah, 5 : 3 )


KEWAJIBAN KITA sebagai MUSLIM MENSIKAPI KARUNIA YANG KITA TERIMA

Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai muslim untuk melaksanakan kewajiban kepada Allah, karena nikmat yang telah diberikan-Nya.
Seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, adalah seorang yang tidak tahu berterima kasih.  Dan manusia yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih.

Mungkin anda akan bertanya: Apakah kewajiban yang harus kita laksanakan kepada Allah yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita?
Jawabannya adalah bahwa karena Allah telah memasukkan kita ke dalam kelompok umat Muhammad saw, maka bukti terima kasih yang paling baik yang dapat kita persembahkan kepada Allah adalah dengan cara menunjukkan sikap sebagai pengikut-pengikut Rasulullah saw yang tulus dan setia.
Dan Karena Allah telah memasukkan kita ke dalam kelompok masyarakat Muslim, maka satu-satunya cara untuk memperlihatkan rasa terima kasih kita kepada-Nya adalah menjadi seorang Muslim yang benar.

Inilah kewajiban kita dalam mensyukuri karunia-nya, tidak ada cara lain bagi kita dalam menyatakan rasa syukur kita hanya dengan cara demikian. Bila sebaliknya, maka hukuman atas sikap kita yang tidak tahu berterima kasih, akan Allah berikan kepada kita. Semoga Allah menghindarkan kita dari hukuman itu, Amiin...


LANGKAH PERTAMA menjadi SEORANG MUSLIM

Anda mungkin akan bertanya: "Bagaimana seseorang menjadi
seorang Muslim yang sebenarnya?". Jawabannya adalah jawaban dari beberapa pertanyaan dibawah ini :

Marilah kita pikirkan apa sebenarnya arti kata Muslim yang kita gunakan setiap waktu, dengan memikirkan beberapa pertanyaan berikut:

> Apakah seseorang sudah membawa Islam pada waktu ia dilahirkan?
> Apakah seseorang disebut Muslim karena ibu-bapaknya atau kakaknya    adalah Muslim ?
> Apakah seorang Muslim terlahir begitu saja sebagai seorang Muslim, sebagaimana halnya seorang bangsawan lahir sebagai bangsawan, atau seorang anak dari kasta Brahmana lahir sebagai seorang Brahmana, atau seorang anak Sudra lahir sebagai seorang Sudra ?
> Apakah Muslim itu nama suatu bangsa seperti Indonesia dimana saat kita lahir langsung mendapat status orang Indonesia ? dan
> Apakah seorang Muslim disebut Muslim karena dia lahir di tengah
masyarakat Muslim, seperti seorang lndonesia disebut orang Indonesia karena lahir di tengah-tengah masyarakat Indonesia ?

Bagaimana jawaban anda terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas ? Saya kira - bahkan saya yakin - anda akan menjawab: "Tidak". Artinya seseorang tidak lazim disebut Muslim karena alasan-alasan tersebut di atas. Tetapi seseorang dikatakan Muslim apabila ia menerima sepenuhnya (qobul) terhadap Islam sebagai Agamanya. Kalau ia melepaskan agama Islam, maka secara otomatis berhenti menjadi Muslim.
Seorang yang beragama Hindu, kristen, atau seorang bangsawan, atau seorang Indonesia akan termasuk dalam kelompok masyarakat Muslim kalau mereka menerima Islam sebagai Agamanya. Sebaliknya, seorang yang lahir di tengah-tengah keluarga Muslim akan dikeluarkan dari masyarakat Muslim kalau ia melepaskan Islam sebagai Agamanya, walaupun ia anak seorang kyai".

Itulah jawaban yang saya yakini dan yang patut anda berikan, atau yang anda setujui. Dan dari jawaban tersebut kita boleh menyimpulkan bahwa anugerah Allah yang terbesar adalah sebutan sebagai seorang Muslim  yang mana sebutan itu bukanlah seperti harta, bangsa atau kesukuan yang
secara langsung anda warisi dari orang tua anda dan terus melekat pada diri anda selama hidup, baik anda sadari atau tidak, tetapi sebutan Muslim adalah suatu karunia yang harus anda peroleh dengan usaha.

Kalau anda melakukan usaha untuk memperolehnya, maka anda akan mendapatkannya; sebaliknya bila anda tidak memperdulikannya, walaupun anda sudah memperolehnya, maka sebutan Muslim yang Berharga itu akan dicabut dari anda. Na'udzu billah min dzalik.


PENGERTIAN MENERIMA ISLAM

Sebelumnya sudah disampaikan bahwa seseorang dapat menjadi seorang Muslim apabila ia menerima Islam sebagai Agamanya.

Pertanyaan selanjutnya adalah Apa artinya menerima Islam itu ?
> Apakah ini berarti bahwa siapapun yang mengucapkan,"saya adalah seorang Muslim atau saya telah menerima Islam" otomatis menjadi seorang Muslim ?
>  Apakah ini berarti seperti seorang penganut Brahmana yang mengucapkan mantra-mantra berbahasa Sanskrit, atau seperti seseorang yang mengucapkan kalimat-kalimat berbahasa Arab, walaupun tidak memahami makna yang terkandung dalam ucapan mereka, pantas disebut seorang Muslim?

Sekarang tentu anda dapat menjawab pertanyaan di atas dengan pasti bahwa jawabannya : "Tidak".  Anda pasti akan mengatakan bahwa arti menerima Islam adalah bahwa seseorang harus dengan penuh kesadaran dan kesengajaan menerima apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw, dan bertindak sesuai dengan ajaran tersebut.  Barangsiapa yang berbuat demikian, maka ia adalah seorang Muslim, dan sebaliknya barangsiapa yang tidak berbuat demikian, ia bukanlah seorang Muslim.

Agar kita mampu menerima Islam sebagaimana pengertian diatas, maka ada dua syarat yang harus dipenuhi yaitu, Ilmu Pengetahuan dan Amal Perbuatan.


Syarat Pertama : Ilmu Pengetahuan

Seseorang dapat menjadi Brahmana tanpa memiliki pengetahuan, kerana ia lahir sebagai Brahmana dan akan terus hidup sebagai Brahmana.  Demikian pula seseorang yang lahir dari orang tua berdarah ningrat akan menjadi ningrat pula, walaupun ia tidak memiliki pengetahuan apapun namun karena ia lahir sebagai ningrat maka ia akan tetap disebut seorang ningrat sampai akhir hayatnya.

Tetapi, seseorang tidak dapat menjadi seorang Muslim tanpa memiliki pengetahuan, karena Islam tidak diperoleh karena faktor keturunan melainkan karena Ilmu Pengetahuan. Kalau seseorang tidak mengetahui apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, bagaimana ia boleh menyatakan keimanannya kepada ajaran tersebut dan mengamalkannya ?. Dan bila ia menyatakan keimanannya tanpa kesadaran dan pemahaman mengenai ajaran tersebut, bagaimana ia dapat menjadi seorang Muslim?. Adalah tidak mungkin untuk menjadi seorang Muslim dan hidup sebagai seorang Muslim tanpa mengetahui apa-apa.
Seseorang yang dilahirkan ditengah-tengah keluarga Muslim, mempunyai nama seperti seorang Muslim, berpakaian seperti seorang Muslim, dan menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim, sebenarnya dia bukanlah seorang Muslim bila tanpa Ilmu Pengetahuan yang melahirkan kesadaran dan pemahaman terhadap Islam. Karena, seorang Muslim yang sebenarnya hanyalah seorang yang tahu, apa makna Islam yang sebenarnya dan menyatakan keimanannya kepada Islam dengan penuh kesadaran.

Perbedaan yang sebenarnya antara seorang kafir dengan seorang Muslim bukanlah perbedaan dalam nama. Nama Joni tidaklah berarti bahwa  pemiliknya adalah seorang kafir dan nama Abdullah adalah seorang Muslim.
Demikian pula orang yang memakai celana jeans tidak berarti dia seorang kafir, dan yang memakai sarung adalah seorang Muslim.  Tidak, tidak demikian. Namun kesejatian perbedaan antara seorang kafir dan seorang muslim adalah dalam ilmu Pengetahuan.

Seseorang adalah kafir karena ia tidak tahu bagaimana hubungan dirinya dengan Allah dan hubungan Allah dengan dirinya, dan tidak tahu cara hidup yang harus dijalaninya di dunia ini, yang sesuai dengan kehendak Allah.
Apabila seorang anak dari orang tua yang Muslim tidak mempunyai pengetahuan mengenai hal ini, maka apa alasannya bagi kita untuk menganggap dirinya sebagai seorang Muslim ?

Sahabat - sahabatku....
Saya minta anda semua mendengarkan baik-baik apa yang sedang saya uraikan dengan penuh tekanan ini, dan memikirkannya dengan tenang tanpa emosi. Kita semua harus mengerti sebenar-benarnya bahwa memperoleh atau kehilangan kurniaan Allah yang terbesar yang anda syukuri itu, tergantung seluruhnya pada ilmui pengetahuan.  Bila anda tidak mempunyai pengetahuan itu, anda sama-sekali tidak akan dapat memperoleh kurnia itu.  Bahkan kalau anda mempunyai sebagian kecil saja dari anugerah itu, maka karena ketidaktahuan anda, anda akan selalu terancam bahaya kehilangan karunia milik anda itu.
Orang yang mestinya boleh memiliki anugerah yang besar itu, karena kebodohannya, mungkin akan menganggap bahwa dirinya adalah seorang Muslim, padahal sebenarnya ia bukanlah seorang Muslim.  Perumpamaan orang yang sama-sekali tidak tahu perbedaan antara Islam dan kufur serta perbedaan antara Islam dan syirik adalah ibarat seseorang yang sedang berjalan pada sebuah lorong yang gelap. Mungkin sekali, ketika ia sedang mengikuti sebuah lorong yang lurus, karena dalam kegelapan langkahnya menyeleweng ke arah yang lain dan ia tidak sadar bahwa ia telah menyeleweng dari arah yang lurus yang harus ditempuhnya.
Dan mungkin sekali terjadi, di tengah jalan ia akan bertemu dengan seorang thoghut dan dajjal yang akan mengatakan kepadanya: "Hai Nak! Kamu telah tersesat dalam kegelapan. Mari, kupimpin engkau kepada tujuanmu".  Karena dalam kegelapan, pejalan yang malang itu, tidak mampu melihat dengan matanya sendiri mana arah yang lurus sehingga tanpa curiga apa-apa, ia akan segera menyambar tangan si thoghut dan dajjal dan terus berpegang kepadanya, dan si thoghut dan dajjal akan membawanya ke jalan yang sesat. Bahaya ini mungkin sekali akan menimpa pejalan tersebut, karena ia sendiri tidak memiliki pelita apa pun sebagai penerang dan akibatnya ia tidak bisa melihat tanda-tanda di sepanjang jalan yang ditempuhinya.
Namun apabila ia mempunyai pelita, tentulah ia tidak akan tersesat atau disesatkan oleh orang lain. Dan pelita itu adalah Ilmu Pengetahuan.
Dari perumpamaan ini anda boleh memahami bahwa, bahaya terbesar bagi seorang Muslim adalah tidak memiliki pengetahuan akan ajaran Islam yang diajarkan oleh al-Qur'an dan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw.  Karena dengan tidak mempunyai pengetahuan, ia pasti akan meraba-raba sepanjang jalan, dan akan disesatkan oleh Thoghut dan dajjal.

Tetapi bila seorang muslim memiliki ilmu pengetahuan, ia pasti mampu melihat jalan Islam yang lurus pada setiap langkah dalam hidupnya, menghindari jalan-jalan kufr, syirk, bid'ah dan tidak bermoral yang menghalangi jalannya. Dan bila seorang penyesat ditemuiya di tengah jalan, maka setelah bertukar ilmu pengetahuan sejenak dengannya, ia pasti akan segera sadar, bahwa orang yang ditemuinya itu adalah seorang yang jahat dan menyesatkan yang tidak boleh diikuti.


Saudara-saudaraku...
Pada pengetahuan inilah, yang sekarang sedang saya jelaskan kepentingannya, ini bukanlah hal yang remeh yang boleh anda
abaikan.
Coba kita renungkan perbandingan sederhana ini... Anda selalu bersikap penuh perhatian dalam mengerjakan sawah ladang anda, mengairi dan melindungi tanaman-tanaman anda, memberi makan ternak anda dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersangkut paut dengan mata-pencarian anda yang lain.  Karena, anda berpikir bila anda tidak bekerja dengan penuh perhatian, anda pasti akan kelaparan dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi anda, yakni nyawa anda.
Maka, kenapa anda tidak bersikap serius dan bersunguh-sungguh dalam mencari ilmu pengetahuan tentang Islam yang benar dan lurus dimana pada pengetahuan inilah terdapat hakikat anda sebagai seorang Muslim dan wafat dalam keadaan Muslim. Bukankah bila anda tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam memperoleh Ilmu pengetahuan tersebut, anda  terancam bahaya kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu iman ?. Bukankah iman lebih berharga daripada hidup ?.
Dari sekian banyak waktu yang anda habiskan untuk bekerja demi hidup anda, tidak dapatkah anda memperuntukkan sepersepuluh daripadanya untuk hal-hal yang dapat melindungi Iman anda ?.
Saya tidak mengatakan bahwa setiap orang dari anda semua harus menjadi seorang ulama, membaca kitab-kitab yang tebal dan menghabiskan waktu sepuluh atau belasan tahun untuk usaha tersebut.  Anda tidak perlu membaca kitab yang tebal-tebal untuk menjadi seorang Muslim. namun saya hanya mengharapkan bahwa setiap orang dari anda menyediakan waktu minimal satu jam saja dari dua puluh empat jam yang anda miliki dalam sehari-semalam untuk mempelajari pengetahuan tentang ad-dinul Islam. Itulah waktu paling sedikit yang harus disediakan oleh setiap orang Muslim, baik pemuda, orang dewasa maupun yang sudah lanjut usia, untuk mempelajari pengetahuan yang memungkinkannya untuk memahami kepentingan ajaran al-Qur'an dan tujuan diwahyukannya al-Qur'an tersebut.
Setiap orang Muslim harus mengerti sebenar-benarnya risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw ke dunia ini. la harus mengerti sebenar-benarnya aturan hidup mana yang harus ditegakkan di dunia ini, dan aturan hidup mana yan harus dimusnahkan dan diganti. Ia juga-harus mengenal dengan baik cara hidup khusus yang telah ditetapkan Allah bagi orang-orang Muslim. Tidak banyak waktu yang dituntut untuk memperoleh pengetahuan yang diperlukan untuk itu.
Dan bila Iman lebih berharga bagi anda daripada segalanya, maka tidak akan sulit bagi anda untuk menyediakan waktu satu jam setiap hari untuk mempelajari pengetahuan tersebut. Insya Allah.


PERBEDAAN ANTARA SEORANG MUSLIM DAN SEORANG KAFIR

Kenapa seorang muslim berbeda dengan seorang kafir ?

Sahabat - sahabatku kaum muslimin.

Setiap Muslim percaya bahawa seorang Muslim lebih tinggi derajatnya daripada seorang kafir ?.
Allah mencintai  seorang Muslim dan membenci orang kafir.
Seorang Muslim akan memperoleh keselamatan dari Allah, sedangkan seorang kafir hanya akan memperoleh kerugian dan kecelakaan.
Seorang Muslim akan masuk ke Syurga dan seorang kafir akan masuk ke
neraka.

Marilah kita pikirkan sedalam-dalamnya, mengapa ada perbedaan yang begitu besar antara seorang Muslim dan seorang kafir.  Padahal seorang kafir  juga adalah keturunan Adam, seperti kita semua. la juga seorang manusia yang punya tangan, kaki, mata. Dan sebagaimana kita semua, ia pun bernafas dengan udara yang sama, minum air yang sama, dan hidup di bumi yang sama. Allah yang menciptakan kita, adalah PenciptaNya juga. Tapi mengapa derajat mereka, orang kafir rendah dan derajat kita sebagai muslim tinggi ? Mengapa kita semua sebagai muslim akan masuk syurga dan mereka masuk neraka ?



Apakah perbedaannya karena soal nama saja ?

Sahabat- sahabatku....
Ini adalah suatu masalah yang harus kita pikirkan secara mendalam. Perbedaan yang begitu besar antara seorang Muslim dan seorang kafir, tidak mungkin disebabkan karena seorang benama Abdullah dan Abdurrahman, sedang yang lain bernama Joni dan Robertson; atau karena yang seorang dikhitan dan yang lain tidak; atau karena yang seorang tidak memakan daging babi dan yang lain memakannya.
Allah Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan alam seluruh manusia dan memberinya rezeki, tidak mungkin bertindak sedemikian kejam, mendiskriminasikan antara makhlukNya, memasukkan hambaNya yang satu ke syurga sedang yang lain ke neraka hanya karena soal-soal kecil seperti itu.


Perbedaan muslim dan kafir sebenarnya.

Apabila memang perbedaan yang besar dalam kedudukan seorang Muslim dengan seorang kafir bukanlah karena soal nama, khitan dan daging babi. Kalau begitu, apakah perbedaan yang sebenarnya antara keduanya ? Jawabannya hanyalah satu, yakni karena Islam dan kufur.  Islam berarti kepatuhan kepada Allah sedangkan kufur berarti ketidakpatuhan kepada Allah. Orang Muslim dan orang kafir kedua-duanya adalah manusia. Kedua-duanya adalah hamba Allah.  Tetapi yang satu, berkedudukan mulia karena ia mengakui Allah, dan mematuhi perintah-perintahNya. Yang satu takut akan hukuman yang akan diberikan-Nya bila ia tidak mematuhi perintah-perintah-Nya.

Sedangkan yang satu lagi terperosok dari kedudukan yang tinggi itu karena ia tidak mengakui Allah dan tidak mau melaksanakan perintah-Nya. Inilah sebabnya mengapa Allah mencintai kepada orang-orang Muslim dan membenci kepada orang-orang kafir. Allah menjanjikan karunia syurga bagi orang-orang Muslim, dan memperingatkan orang-orang kafir bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.


SEBAB PERBEDAAN: ILMU PENGETAHUAN DAN AMAL  PERBUATAN

Dari uraian di atas jelaslah bahwa ada dua perkara yang membedakan seorang Muslim dengan seorang kafir.

Yang pertama adalah ilmu pengetahuan dan yang kedua amal perbuatan.  Pengetahuan berarti bahwa seorang Muslim harus tahu siapa TuhanNya, apa perintah-perintahNya, bagaimana cara-cara untuk menuruti kehendakNya, perbuatan - perbuatan mana yang disukai-Nya dan mana yang tidak disukai-Nya.  Bila ia sudah tahu akan hal-hal tersebut, maka langkah yang kedua ialah bahwa ia harus menjadikan dirinya sebagai budak dari Robbnya, melaksanakan kehendak-kehendak-Nya, dan mengabaikan kehendaknya sendiri.
Bila hatinya ingin melakukan sesuatu perbuatan, tetapi perbuatan itu bertentangan dengan perintah Robbnya, maka ia harus melepaskan keinginannya sendiri dan melaksanakan perintah Robbnnya. Apabila suatu perbuatan kelihatan mulia di matanya, tetapi Tuhannya mengatakan bahwa perbuatan itu hina, maka ia harus memandangnya hina pula.  Sebaliknya, bila suatu perbuatan nampak hina dimatanya, tetapi Robbnya mengatakan mulia, maka ia harus memandangnya mulia pula.  Apabila ia melihat bahwa sesuatu pekerjaan mengandung bahaya, tetapi RobbNya mengatakan bahwa pekerjaan itu harus dilakukan, maka bagaimanapun juga ia mesti mengerjakannya, walaupun ia mungkin akan kehilangan harta benda bahkan nyawanya. Sebaliknya, apabila ia memandang bahwa sesuatu pekerjaan akan mendatangkan keuntungan baginya, tetapi Robbnya melarang pekerjaan tersebut, maka ia harus meninggalkannya, walaupun pekerjaan tersebut boleh mendatangkan keuntungan sebanyak harta benda yang ada di seluruh dunia ini.
lnilah pengetahuan dan perbuatan yang menjadikan seorang Muslim sebagai hamba Allah yang sejati, yang mendapat limpahan rahmat-Nya serta kedudukan yang luhur dan mulia.
Sebaliknya, karena seorang kafir tidak memiliki pengetahuan ini, ia dimasukkan ke dalam golongan hamba Allah yang membangkang dan tidak mendapat limpahan rahmat-Nya.
Sekarang, seandainya ada seseorang yang menyatakan dirinya seorang Muslim, tetapi ia sama bodohnya tentang Islam dengan seorang kafir, dan sama pula pembangkangannya kepada Allah, dapatkah kita mengatakan dengan menggunakan pertimbangan yang adil, bahwa kedudukannya lebih tinggi daripada seorang kafir, semata-mata karena ia memiliki nama yang berbeda, memakai pakaian yang berbeda dan memakan makanan yang berbeda dengan orang kafir tersebut ? Dan apa pula alasannya untuk mengatakan bahwa ia berhak memperoleh rahmat Allah di dunia dan di akhirat ?
Islam bukanlah sesuatu yang bersifat kebangsaan, kekeluargaan atau persaudaraan yang secara langsung diwarisi oleh orangtua kepada anak dan dari anak kepada cucu.  Kedudukan sebagai seorang Muslim tidaklah diperoleh karena keturunan sebagaimana halnya kasta, di mana anak seorang Brahmana akan tetap memperoleh kedudukan yang tinggi, walaupun betapa bodoh dan jahat perangainya, karena ia memang lahir dalam keluarga Brahmana yang berkedudukan tinggi.  Sementara itu, anak dari orangtua berkasta rendah akan tetap berkedudukan rendah, karena memang ia lahir di tengah-tengah keluarga yang berkasta rendah.  Dalam hal ini Allah telah menyatakan dalam KitabNya:

“... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu... " (Qs. al-Hujurat (49):13)

Artinya, semakin banyak orang mengetahui tentang Allah dan semakin mentaati perintah-Nya, maka akan semakin tinggi pulalah kedudukannya di mata Allah.
Nabi Ibrahim 'alaihissalam dilahirkan di tengah-tengah keluarga seorang penyembah berhala, tetapi beliau mengenal Allah dan mentaati perintah-Nya.  Itulah sebabnya Allah mengangkatnya sebagai imam seluruh dunia.  Sementara Anak Nabi Nuh dilahirkan dalam keluarga seorang nabi, tetapi ia tidak mengerti tentang Allah dan tidak mentaati perintahNya; ia nista dan celaka. Itulah sebabnya mengapa Allah menghukumnya sedemikian rupa tanpa mempedulikan keluarganya, hingga kisahnya menjadi contoh bagi seluruh dunia.

Karena itu marilah kita pahami benar-benar bahwa apa pun perbedaan yang ada diantara seorang manusia dengan manusia yang lain, dalam pandangan Allah hal itu berhubungan erat dengan pengetahuan dan perbuatan. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, rahmat Allah dilimpahkan kepada mereka yang mengerti akan Allah, tahu jalan yang benar yang ditunjukkan-Nya, dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.  Mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat ini sama saja kedudukannya dengan mereka yang kafir, dan tidak berhak memperoleh rahmat-Nya, tidak peduli mereka bernama Abdullah, Abdurrahman, Joni atau Kartar Singh.

MENGAPA ORANG-ORANG MUSLIM TERHINA SEKARANG INI ?

Saudara-saudaraku...

Kita semua menamakan diri orang-orang Muslim, dan kita yakin Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang-orang Muslim.  Tetapi marilah kita buka mata dan kita lihat apakah rahmat Allah dilimpahkan kepada kita atau tidak.  Apa pun yang terjadi di akhirat, itu adalah urusan nanti, tetapi yang penting marilah kita lihat
kedudukan kita di dunia ini.  Kita kaum Muslimin di Hindustan ini berjumlah 90 juta orang (sebelum India terbahagi menjadi India dan Pakistan) jumlah kita demikian besar sehingga bila masing-masing kita melemparkan sebuah batu, maka longgokan batu itu akan menjadi sebuah gunung. Tetapi di negeri yang begitu banyak orang-orang Muslimnya ini, pemerintahan berada di tangan orang-orang kafir.
Tengkuk kita berada dalam cengkeraman tangan mereka, dan mereka memutar kepala kita ke arah mana sahaja yang mereka sukai.  Padahal seharusnya kepala kita tidak kita tundukkan di depan siapa pun juga kecuali Allah, tetapi sekarang kita tunduk di hadapan manusia - manusia yang sama seperti kita juga.  Kehormatan kita yang semestinya tidak boleh dinodai oleh siapa pun juga, sekarang berlumuran tanah. Tangan
kita yang selama ini selalu di atas sekarang berada di bawah dan menadah di hadapan orang-orang kafir.
Kebodohan, kemiskinan dan hutang telah merendahkan derajat kita di mana-mana.
Apakah ini semua rahmat Allah ? Apabila ini semua bukan rahmat melainkan kemurkaan, maka alangkah anehnya bahwa kita sebagai orang-orang Muslim mendapatkan kemurkaan Allah ! Kita semua orang-orang Muslim, tetapi kita berkubang dalam lumpur kehinaan, kita semua orang-orang Muslim, tetapi kita hidup sebagai budak-budak ! Situasi seperti ini kelihatannya betul-betul tidak mungkin, seperti tidak mungkinnya suatu benda dalam waktu yang sama berwarna hitam dan putih. Bila seorang Muslim adalah seorang yang dicintai Allah, bagaimana mungkin hidup terhina di dunia ini? Apakah Allah, (na’udzu billah min dzalik), seorang dewa penindas hingga sementara kita menjalankan kewajipan-kewajipan  terhadapNya dan  mentaati perintah-perintahNya, Dia membiarkan orang-orang yang menentangNya memerintah kita dan menghukum kita kerana kepatuhan kita kepadaNya? Apabila kita percaya bahawa Allah bukanlah penindas dan bila kita percaya bahawa balasan kepatuhan kepada Allah tidak mungkin berupa kehinaan, maka kita semua harus mengakui bahwa ada sesuatu yang salah dalam pengakuan kita sebagai orang-orang Muslim.  Walaupun dalam kartu penduduk kita tercatat sebagai orang-orang Muslim, tetapi Allah tidak memberikan penilaian berdasarkan keaslian kartu penduduk yang dikeluarkan oleh pemerintah.  Allah punya pejabat sendiri.  Kita harus mencari dalam daftarNya untuk melihat apakah nama kita termasuk dalam kelompok hamba-hambaNya yang patuh ataukah dalam kelompok yang tidak patuh ?

Allah mengirimkan KitabNya kepada kita, hingga dengan membacanya kita dapat mengenal-Nya dan tahu cara-cara untuk menjadi hambaNya yang patuh. Apakah kita pernah mencuba untuk mengetahui apa yang tertulis dalam Kitab itu? Allah mengutus RasulNya kepada kita untuk mengajar kita cara menjadi seorang Muslim. Apakah kita pernah mencuba mengetahui apa yang diajarkan oleh utusanNya itu ? Allah menunjukkan kepada kita jalan untuk memperoleh kehormatan dan kemuliaan di dunia ini dan di akhirat nanti.  Apakah kita sudah menuruti jalan tersebut? Allah dengan jelas memberitahukan kepada kita perbuatan-perbuatan yang bagaimana yang dapat merendahkan kedudukan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti.  Apakah perbuatan-perbuatan tersebut sudah kita hindari ? Jawaban apa yang dapat kita berikan kepada
pertanyaan-pertanyaan ini ? Bila kita mengetahui bahawa kita tidak mempunyai pengetahuan dari Kitab Allah dan dari kehidupan Utusan-Nya dan tidak pula mengikuti jalan yang ditunjukkan olehNya, maka bagaimana kita boleh disebut orang-orang Muslim yang patut menerima rahmatNya? Pahala yang kita peroleh adalah sebanding dengan derajat kita sebagai Muslim, dan kita akan memperoleh balasan yang seperti itu pula diakhirat nanti.

Saya telah menyatakan sebelumnya bahwa secara mutlak tidak ada perbezaan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, kecuali dalam masalah ilmu pengetahuan dan amal perbuatan.
Apabila pengetahuan dan perbuatan seseorang sama dengan pengetahuan seorang kafir, sedangkan dia menyebut dirinya seorang Muslim, maka ucapannya itu adalah dusta yang tidak tahu malu.  Seorang kafir tidak suka membaca al-Qur'an dan tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya.  Apabila seseorang yang mengaku Muslim keadaannya juga demikian, bagaimana ia dapat disebut seorang Muslim?
Seorang kafir tidak mengetahui apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan jalan lurus yang telah ditunjukkannya untuk menuju kepada Allah.  Apabila seorang yang mengaku dirinya Muslim sama bodohnya seperti ini, bagaimana ia boleh disebut seorang Muslim?
Seorang kafir hanya mengikuti kemauannya sendiri, bukan perintah Allah.  Apabila seorang yang mengaku Muslim sama seperti ini, keras-kepala, dan hanya mengikuti pikiran dan pendapatnya sendiri, mengacuhkan Allah, dan menghamba kepada kemauannya sendiri, maka bagaimana ia mempunyai hak untuk menyebut dirinya seorang Muslim (hamba Allah yang patuh) ?
Seorang kafir tidak membedakan antara yang halal dan yang haram, dan mengambil apa saja yang menguntungkan dan menyenangkan baginya, tanpa mempedulikan apakah itu halal atau haram dalam pandangan Allah.  Apabila seorang yang menyebut dirinya Muslim tingkah-lakunya sama dengan seorang yang bukan Muslim, apa bezanya dia dengan seorang kafir ? Ringkasannya, apabila pengetahuan seorang Muslim tentang Islam sama bodohnya dengan pengetahuan seorang kafir tentang Islam, dan ia (Muslim) melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan seorang kafir, maka bagaimana ia dapat dianggap lebih tinggi kedudukannya daripada seorang kafir ? Atau bukankah hal ini sama dengan perbuatan seorang  kafir ?
Semua ini adalah masalah yang harus kita renungkan dalam keadaan yang tenang.

MASALAH YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN DENGAN SERIUS.

Saudara-saudaraku yang tercinta!

Janganlah saudara-saudara mengira bahwa saya mau men'cap' orang-orang Muslim sebagai orang-orang kafir. Sama sekali tidak, bukan begitu maksud saya.  Saya hanya mengajak saudara-saudara untuk berfikir dan merenungkan mengapa kita semua tidak memperoleh Rahmat Allah.

Mengapa kita menjadi korban bencana dari segala penjuru ?
Mengapa mereka yang kita sebut orang-orang kafir,  yakni hamba-hamba Allah yang membangkang kepada-Nya, di mana-mana menguasai kita ? Dan mengapa kita, yang menyatakan diri sebagai hamba-hamba-Nya yang patuh, diperbudak orang di mana-mana ? Semakin saya merenungkan sebab dari situasi ini, semakin saya merasa yakin bahwa satu-satunya perbedaan yang tinggal antara kita dengan orang-orang kafir sekarang ini hanyalah perbedaan dalam nama saja, sedangkan kita sama lupanya kepada Allah dengan mereka, sama tidak takutnya kepada-Nya, dan sama pula pembangkangnya dengan mereka, orang-orang kafir.  Tentu saja ada perbedaan sedikit antara kita dan mereka, tetapi perbedaan ini demikian kecil dan tidak berarti apa-apa. Justeru perbedaan itu membuat kita semakin patut memperoleh hukuman dari Allah, karena kita tahu bahwa al-Qur'an adalah Kitab Allah tetapi kita memperlakukannya seperti perlakuan yang diberikan orang-orang kafir kepadanya.
Kita tahu bahwa Muhammad saw adalah Utusan Allah, tetapi kita, seperti halnya orang-orang kafir, takut untuk mengikutinya.
Kita tahu bahwa Allah mengutuk para pembohong dan telah menyatakan dengan tegas bahwa tempat tinggal orang-orang yang mensuap dan yang menerima suap adalah neraka.

Dia telah menyatakan bahwa para pengambil dan para pemberi riba adalah penjahat-penjahat yang paling keji. Dia telah mengatakan bahwa membicarakan orang lain adalah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati.
Dia telah memperingatkan bahawa kata-kata dan perbuatan-perbuatan yang kotor, kebiadaban dan perbuatan-perbuatan yang cabul akan dihukum dengan hukuman yang pedih. Tetapi walaupun kita mengerti itu semua, namun kita melakukannya dengan bebas seperti orang-orang kafir, seolah-olah kita sama sekali tidak takut kepada Allah.  Inilah sebabnya mengapa kita tidak memperoleh Rahmat, karena kita tampaknya saja adalah orang-orang Muslim, tetapi sebenarnya kelakuan kita sama saja dengan orang-orang kafir.
Kenyataan bahwa orang-orang kafir menguasai dan memerintah kita, dan kehinaan kita di tangan mereka pada setiap peristiwa, adalah bentuk hukuman atas kejahatan kita yang sudah tidak menghargai nikmat karunia Islam yang telah dilimpahkan kepada kita.

Saudara-saudaraku yang tercinta !

Apa yang saya katakan pada hari ini tidaklah ditujukan untuk menyalahkan anda semua. Kedatangan saya ke sini bukanlah untuk mencela saudara-saudara.  Maksud saya hanyalah untuk menyadarkan dan mengajak anda semua untuk memperoleh kembali apa yang telah hilang dari tangan kita.
Keinginan untuk memperoleh kembali harta yang hilang akan timbul, bila seseorang menyadari apa yang telah hilang dari tangannya dan betapa bernilainya harta yang hilang itu.  Kerana itulah saya mencoba untuk menyadarkan anda semua.  Bila anda semua mengerti dan sadar bahwa sesungguhnya anda dahulu pernah memiliki suatu harta yang tidak ternilai harganya, yang kemudian hilang dari tangan anda, maka anda pasti akan berpikir untuk memperoleh harta itu kembali.

KEMAUAN UNTUK MEMPEROLEH ILMU PENGETAHUAN

Dalam khutbah saya yang telah lalu saya telah mengatakan kepada anda bahwa untuk menjadi seorang Muslim sejati, syarat yang pertama-tama harus dimiliki adalah ilmu pengetahuan tentang Islam.
Setiap Muslim harus mengetahui apa yang diajarkan oleh al-qur'an, sistem kehidupan apa yang diikuti oleh Rasulullah, apakah makna Islam, dan hal-hal apa sebenarnya yang membedakan Islam dan kufur.
Tidak seorang pun yang lazim menjadi seorang Muslim tanpa mengetahui hal-hal ini. Tetapi sayang sekali bahwa anda semua tampaknya tidak ghairah untuk memperoleh pengetahuan tersebut. Ini menunjukkan bahawa anda semua masih belum menyadari betapa besar kurnia yang terlepas dari tangan anda.
Saudara-saudaraku ! Seorang ibu tidak akan memberikan air susunya kepada anaknya sebelum si anak menangis minta disusui. Kalau seorang
manusia merasa haus, dia sendiri harus mencari air dan Allah pun sudah menyediakan air itu.  Bila anda sendiri tidak merasa haus, tidak akan ada gunanya sebuah sumber air yang memancar di hadapan anda.  Jadi anda harus menyadari terlebih dahulu betapa besar kerugian anda dengan tidak memahami din. Kitab Suci Allah ada beserta anda, tetapi anda tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya. Kerugian apa yang lebih besar daripada ini ? Anda bahkan tidak mengetahui makna kalimah syabadah yang dengan membacanya anda menjadi seorang Muslim; tidak pula anda mengetahui tanggungjawab apa yang terpikul di atas bahu anda setelah anda membaca kalimah tersebut. Adakah kerugian yang lebih besar bagi seorang Muslim selain daripada ini ?
Anda tahu besarnya kerugian anda bila padi di sawah anda terbakar; anda tahu sengsaranya orang yang tidak punya pekerjaan; anda boleh merasakan sedihnya kehilangan harta benda. Tetapi anda tidak tahu betapa ruginya orang yang tidak tahu tentang ajaran Islam. Kalau anda menyadari kerugian ini maka anda akan berusaha sendiri untuk menebus kerugian ini.  Dan bila anda sendiri mau berusaha, maka Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi anda untuk memperoleh kembali harta anda yang telah hilang itu, dan Allah menyelamatkan anda dari kerugian yang besar ini.

MASALAH-MASALAH YANG HARUS DIRENUNGKAN

PERLAKUAN KITA TERHADAP AL-QURAN

Saudara-saudara sesama Muslim!

Umat Islam adalah satu-satunya umat yang paling beruntung di dunia sekarang ini karena mereka memiliki Wahyu Allah yang terpelihara dalam keadaan utuh dan dalam bentuknya yang asli, bebas dari kekotoran campur-tangan manusia.  Setiap kata-kata yang ada di dalamnya masih persis sama dengan ketika ia diturunkan kepada Rasulullah saw.  Namun umat Islam ini juga adalah orang-orang yang paling malang di dunia ini, karena, walaupun mereka memiliki Wahyu Allah tetapi mereka tidak dapat memperoleh berkat dan manfaat wahyu tersebut, yang sebenarnya tidak terhitung banyaknya itu. Al- Qur'an diturunkan Allah kepada mereka agar mereka membacanya, memahami isinya dan berbuat menurut petunjuknya.  Dan dengan pertolongan Kitab ini, mereka disuruh untuk menegakkan pemerintahan Allah di muka bumi ini yang berfungsi sesuai dengan hukum Allah. Al-Qur'an datang untuk memberikan kepada mereka kebesaran dan kekuasaan. la datang untuk menjadikan mereka Wakil Allah yang sejati di bumi ini.  Dan sejarah telah membuktikan bahwa bila mana mereka (umat Islam) berbuat menurut petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam Kitab ini, maka Kitab ini akan memperlihatkan kemampuannya untuk menjadikan mereka imam dan pemimpin dunia.  Tetapi sekarang, kegunaan al-Qur'an bagi mereka hanyalah untuk disimpan di rumah untuk mengusir jin-jin dan hantu-hantu. Mereka menuliskan ayat-ayat al-Qur'an pada lembaran-lembaran kertas lalu menggantungkannya pada leher mereka, atau mencelupkannya ke dalam air dan kemudian meminum airnya, dan mereka membaca ayat-ayat al-Qur'an tersebut tanpa memahami artinya, namun dengan itu mereka mengharapkan untuk dapat memperoleh sesuatu keberkahan daripadanya.

Mereka tidak lagi mencari petunjuk daripadanya untuk mengatur masalah-masalah kehidupan mereka.  Mereka tidak lagi menjadikan al-Qur'an sebagai pertimbangan untuk mengetahui apa yang harus mereka percayai, apa saja yang harus mereka kerjakan, dan bagaimana mereka harus melakukan transaksi-transaksi.
Mereka menjauhi al-Qur'an dalam menentukan hukum-hukum apa yang harus mereka ikuti dalam mengikat tali persahabatan dan membuat permusuhan, hak-hak apa yang dimiliki sesama manusia atas diri mereka dan juga hak-hak mereka sendiri atas sesama manusia.  Mereka menjauhi al-Our'an dalam menentukan apa yang benar dan apa yang salah, siapa yang harus dipatuhi perintahnya dan siapa pula yang harus ditentang perintahnya, dengan siapa mereka harus memelihara hubungan dan dengan siapa untuk memutuskan hubungan, siapa teman mereka dan siapa musuh mereka, di mana letak kehormatan, kesejahteraan dan keberuntungan mereka, dan di mana letak kehinaan, kegagalan dan kerugian mereka ? Kaum Muslimin tidak lagi memeriksa masalah-masalah ini dengan al-Qur'an.  Mereka sekarang meminta petunjuk tentang masalah-masalah tersebut kepada orang-orang kafir, orang-orang
musyrik, oring-orang yang sesat dan hanya mementingkan diri sendiri, kepada suara-suara iblis yang ada dalam diri mereka sendiri, dan mereka mengikuti apa saja yang dikatakan oleh unsur-unsur tersebut. Karena itu mereka ditimpa bencana yang pasti akan datang, menimpa siapa saja yang melupakan Allah dan yang mengikuti petunjuk selain dari petunjuk-Nya. Bencana itu menimpa mereka sekarang di India, Cina, Palestin, Syria, Algeria, Maghribi dan di negeri-negeri lainnya.
Akan halnya, al-Qur’an sendiri, ia adalah sumber kebaikan yang paling besar.  Al-Qur'an mampu memberikan kepada anda manfaat apa pun yang anda inginkan dan sebanyak apa pun yang anda mau. Kalau dari al-Qur'an yang anda cari hanya manfaat yang kecil dan remeh, seperti untuk mengusir jin dan hantu-hantu, obat untuk orang sakit batuk dan demam, kemenangan dalam pengadilan dan kejayaan dalam mencari kerja, maka yang anda peroleh, memang, hanya hal-hal kecil itu saja.  Bila yang anda cari hanya kekuasaan di atas dunia dan penguasaan terhadap alam semesta maka anda juga akan memperolehnya.  Dan kalau anda menginginkan untuk mencapai puncak kebesaran rohani, al-Qur'an juga akan membawa anda ke sana.  Ini hanyalah soal kemampuan anda untuk mengambil manfaat daripadanya.
Al-Qur'an bagaikan lautan anda hanya mengambil dua titis air daripadanya padahal sebenarnya ia mampu  memberikan air sebanyak lautan itu sendiri.

Saudara-saudaraku !

Apa yang diperbuat saudara-saudara kita sesama Muslim terhadap Kitab-Suci Allah adalah sangat bodoh dan patut ditertawakan.
Seandainya mereka (saudara-saudara kita sesama Muslim) melihat orang lain berbuat seperti itu terhadap sesuatu yang lain, pasti mereka akan mentertawakannya dan menganggapnya sebagai orang gila. Sekiranya ada
orang yang menerima preskripsi dari seorang dokter, lalu preskripsi itu dibungkusnya dengan kain dan digantungkannya di lehernya, atau dicelupkannya ke dalam air dan air itu diminumnya, apa yang akan anda katakan? Tidakkah anda akan mentertawakan dan mengatakan orang itu sebagai orang yang bodoh ? Lihatlah, sekarang ini di depan mata anda semua perbuatan seperti ini sedang dilakukan terhadap preskripsi yang paling berkesan dan tidak ternilai harganya, yang ditulis oleh doktor yang paling besar dari semua doktor, yang dimaksudkan untuk menyembuhkan semua penyakit anda.  Namun tidak seorang pun yang tertawa melihat perbuatan ini ! Tidak seorang pun mencoba mengerti bahwa sebuah preskripsi bukanlah untuk digantungkan di leher atau dicelupkan ke dalam air lalu diminum, tetapi untuk menggunakan obat dengan cara seperti yang ditunjukkan dalam preskripsi itu.

MEMAHAMI ISI AL-QURAN DAN MENGIKUTINYA ADALAH WAJIB

Seandainya anda melihat orang yang sedang sakit membuka buku tentang pengobatan dan mengira bahwa dengan membacanya ia akan dapat sembuh dari penyakitnya, maka apa yang dapat anda katakan tentang orang itu? Tentu anda akan mengatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang kurang waras dan harus dikirim ke rumah sakit jiwa ?
Akan tetapi tidakkah anda sadar bahwa anda sendiri melakukan hal yang sama kepada buku yang dikirimkan oleh Doktor terpandai untuk menyembuhkan penyakit-penyakit anda? Anda hanya membacanya saja dan mengira bahwa dengan membacanya begitu saja, semua penyakit anda akan hilang.  Anda mengira bahwa anda sudah cukup dengan membacanya saja tidak perlu untuk menuruti petunjuk-petunjuk yang terkandung di dalamnya, tidak pula penting untuk menghindari bahaya seperti yang dikatakannya.  Maka, mengapa anda tidak memberikan penilaian yang sama kepada diri anda sendiri seperti yang anda berikan kepada orang yang mengira bahwa dengan membaca buku pengobatan saja adalah cukup untuk menyembuhkan penyakit.

Kalau anda menerima surat dalam bahasa yang tidak difahami, tentu anda mencari orang yang mengerti bahasa tersebut untuk mengetahui isinya.  Anda tidak merasa tenang sebelum anda mengetahui isi surat tersebut.  Begitulah yang anda lakukan terhadap surat-surat dagang yang mungkin akan memberikan keuntungan yang sedikit bagi anda.  Akan tetapi surat yang dikirimkan oleh Penguasa dunia kepada anda yang menerangkan semua keuntungan anda di lapangan din yang berkaitan kehidupan duniawi, anda biarkan begitu saja tanpa mencoba untuk memahami isinya.  Anda tidak memperlihatkan keinginan untuk mengetahui isinya.  Tidakkah ini suatu hal yang mengherankan ?

AKIBAT PERLAKUAN YANG ZALIM TERHADAP, KITAB ALLAH

Saudara-saudaraku.....
Saya tidak mengatakan ini semua, hanya untuk memuaskan diri saya sendiri semata.
Tetapi bila anda merenungkan semua kenyataan itu, hati anda akan membenarkan
bahwa sekarang ini Kitab Allah sedang mengalami perlakuan yang zalim  di dunia ini, dan pelaku-pelakunya adalah orang-orang yang menyatakan dirinya sendiri beriman kepadanya dan bersedia mati untuk membelanya.  Tidak syak lagi mereka memang, beriman kepadanya dan menganggapnya lebih berharga daripada hidup mereka sendiri; tetapi sayangnya mereka sendirilah yang memperlakukannya dengan perlakuan yang paling zalim.  Dan akibat  perlakuan yang zalim terhadap Kitab Allah ini jelas kelihatan!

Hendaklah kita fahami sebenar-benarnya bahwa, Kitab Allah tidaklah diturunkan kepada manusia untuk menjerumuskannya ke dalam jurang kecelakaan, kemalangan dan penderitaan.

"Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi
sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).
(Al-Qur'an, Thaha, 20:2-3)

Al-Qur'an adalah sumber kebahagiaan dan nasib baik, bukannya sumber kejahatan dan kesengsaraan. Tidak mungkin suatu umat yang memiliki Wahyu Allah hidup dalam penderitaan di dunia ini, diperbudak, diinjak-injak dan ditendang oleh orang lain, dicekam tengkuknya dan ditusuk hidungnya dan dicampak ke arah mana saja yang disukai orang lain.  Suatu umat hanya akan menemui nasib seperti ini bila mereka memperlakukan Kitab Allah secara zalim.  Nasib Bani Israil terpampang dihadapan anda.  Taurat dan Injil diturunkan kepada mereka dan dikatakan:

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan al-Qur'an, yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka".
(Al-Qur'an, al-Maidah, 5:66)

Tetapi mereka memperlakukan Kitab-kitab Allah tersebut dengan cara yang zalim dan mereka memperoleh balasan perbuatan itu:

“...Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.  Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas".
(Al-Qur'an, al-Baqarah, 2:61)

Karena itu apabila suatu umat memiliki Kitab Allah, namun mereka hidup dalam kehinaan dan diperbudak oleh orang-orang lain, maka anda boleh memastikan bahwa hal itu adalah karena mereka memperlakukan Kitab Allah dengan cara yang zalim, dan apa yang mereka alami itu adalah hukuman atas perbuatan mereka itu.  Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dari murka Allah, selain menghentikan kezaliman tersebut dan juga dengan memperlakukan Kitab Allah dengan semestinya.  Bila anda semua tidak berhenti dari berbuat dosa yang besar ini, maka hidup anda tidak akan berubah meskipun anda mendirikan berbagai perguruan tinggi di setiap desa dan anak-anak anda semua menjadi sarjana, namun anda seperti orang-orang Yahudi, menjadi jutawan-jutawan dengan jalan riba.

0 komentar:

Poskan Komentar