Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

Jumat, 21 Desember 2012

RINDU GENERASI PEMBERANI



Hari ini, kita menanti lahirnya para pemberani. Tak keluh lidahnya bicara kebenaran. Tak lemah langkahnya melihat kesulitan yang menghadang.

Pemberani bukan berarti kuat berkelahi melainkan karena himmahnya kepada akhirat, kuat berpegangan teguh kepada syariat, dan kokoh dalam mempertahankan kemurnian aqidahnya.

Pemberani bukan karena dirinya kuat, tetapi karena kemampuannya dalam mengendalikan syahwat dunia. Sang pemberani ditempa untuk tidak terbiasa dengan berhura-hura dan hidup berlebihan

Sekali lagi, hari ini, kita menunggu munculnya generasi yang PEMBERANI yang kepala mereka tegak tatkala berhadapan dengan manusia. Tidak merasa rendah diri karena berjumpa dengan manusia yang berpenampilan mewah. Tidak menyibukkan diri memuji manusia berdasarkan benda-benda yang dimiliki. Tidak memuliakan, tidak pula merendahkan manusia lainnya karena rupawan atau tidaknya. Tetapi mereka menilai manusia karena sikap, perjuangan, akhlak, dan kesungguhannya memperbaiki diri menjadi manusia bertakwa.

Keberanian seseorang dapat dimiliki karena merasa dirinya kuat. Keberanian juga dapat tumbuh karena keinginan untuk menjadi sosok yang membanggakan di hadapan manusia lainnya. Tetapi ingatlah, keberanian seperti itu selain tak bernilai di hadapan Allah ‘Azza wa Jalla, juga mudah runtuh saat mereka dihadapkan pada kesulitan serta tiadanya kenikmatan hidup.

Banyak hal yang memerlukan keberanian agar dapat menjalankan Islam dengan sempurna. Ada keberanian menghadapi ancaman dan ada pula keberanian yang terkait dengan kesiapan untuk berpayah-payah demi meraih kemuliaan di sisi-Nya.

Berkaitan dengan keberanian untuk berpayah-payah demi meraih kemuliaan di sisi Allah ‘Azza wa Jalla diperlukan kemampuan menahan diri. Tidak akan mampu seseorang menempuh jalan sulit karena ingin meraih ridha Allah Ta’ala, kecuali jika ia memiliki harga diri (‘izzah) yang kuat sebagai seorang Muslim. Dan tidak akan tumbuh ‘izzah yang kokoh, kecuali adanya ‘iffah. Dan ini memerlukan latihan panjang.

Tatkala anak dibesarkan di rumah, anak-anak memperoleh penguatan dari orangtua, saudara, dan anggota keluarga lainnya. Tetapi ketika anak tumbuh di sekolah dan agar tetap selaras dengan penguatan keluarga di rumahnya maka harus ada kebijakan pendidikan yang sengaja mengawal anak-anak agar belajar mengendalikan diri dan menjauhi hidup bermewah-mewahan.

Harus ada pendidikan ruhani (tarbiyah ruhiyyah) dari pendidik di sekolah. Harus pula ditumbuhkan suasana penghormatan terhadap sikap terpuji, kegigihan berusaha, integritas, semangat membantu orang lain, kesabaran dan keimanan. Tanpa itu semua, keberanian sejati serta kendali diri hanya menjadi pengetahuan semata.

Bila sekolah dan lingkungan keluarga tidak memiliki semangat untuk melatih semua itu, maka diperlukan adanya Lingkungan Tarbiyah selain Sekolah dan Keluarga yang memiliki tujuan Mendidik dan Membimbing Ruhiyah generasi kita. 

Sebagai awalan dalam membentuk SIKAP PEMBERANI mari kita hayati dan maknai sejenak nasehat ‘Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu ini, sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Hibban, Abu ‘Awanah, Al-Baihaqi, Ahmad, Abu Ya’la dan Ibnul Ja’d, “Jauhilah orang yang hanyut dalam kemewahan dan senang berhias dengan mode orang asing, bersikaplah dewasa dan berpakaianlah secara sederhana (tidak mewah).”

Semoga kita semua mampu membina diri dan keluarga menjadi PEMBERANI sejati, berawal dengan melatih diri  untuk menjauhi kemewahan dan senang hidup dalam kesederhanaan.

0 komentar:

Poskan Komentar