Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

Selasa, 03 Juli 2012

Partai Islam Mau Kemana ?

Bagian Pertama


Partai Islam Mau Kemana?

Qua vadis partai Islam (ilustrasi)

REPUBLIKA.CO.ID,
oleh: Muhammad Subarkah (wartawan Republika)

Datangnya masa kemerdekaan ternyata belum menghasilkan partai Islam yang kuat. Perolehan suara tertinggi partai Islam terjadi pada Pemilu 1955. Sayangnya, sampai kini perolehan suara itu tak kunjung bisa terlampaui. “Partai politik Islam dalam bahaya!” Komentar ini cukup tepat bila mengkaji hasil survei Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS) mengenai keterpilihan partai politik pada Pemilu 2014. Koordinator Survei SSS, Muhammad Dahlan, menyatakan mayoritas responden memilih partai nasionalis daripada partai Islam.

Situasi yang tak jauh berbeda juga dilansir Lingkaran Suvei Indonesia (LSI) yang pada Ahad lalu (17/6) memublikasikan hasil surveinya. Menurut mereka, partai Islam seperti Partai Keadilan Sejahtera (PKS) dan Partai Persatuan Pembangunan (PPP), ataupun partai berbasis masa Islam, seperti Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Partai Amanat Nasional (PAN), saat ini terindikasi hanya akan mendapat suara kurang dari lima persen dalam pemilu.

Melihat kenyataan itu, dapat dipahami bila mulai terdengar sikap skeptis terhadap keberadaan partai Islam. Dahlan, misalnya, dengan gagah berani menegaskan, bila nanti dari empat Partai Islam atau partai berbasis Islam yang kini berada di parlemen, tiga dari empat partai yang ada itu akan terdepak dari percaturan politik di Senayan pasca-Pemilu 2014. Ini  karena mereka hanya bisa meraih suara sekitar tiga persen.

Melalui hasil Survei SSS yang dilakukan pada 14-24 Mei 2012 di 33 provinsi dengan jumlah responden 2.192 orang, ditengarai posisi partai Islam akan berada di rombongan  urutan buncit, maksimal partai papan tengah.  Pada survei kali ini, Golkar berjaya berada di posisi puncak dengan meraih dukungan suara 23 persen. Pada posisi kedua adalah PDIP 19,6 persen. Kemudian, Demokrat 10,7 persen dan Gerindra 10,5 persen. Sementara PKS meraih 6,9 persen, Nasdem 4,8 persen, PPP tiga persen, Hanura 2,7 persen, PAN 2,2 persen, PKB dua persen, dan lainnya 0,6 persen. “Jadi, kalau memakai ukuran parliamentary threshold sebesar 3,5 persen, hanya ada enam partai yang bisa melenggang ke DPR.  Sementara PPP, Hanura, PAN, dan PKB tampaknya harus cuti dulu,” ujar Dahlan.
Redaktur: M Irwan Ariefyanto

Bagian kedua

Partai Islam Mau Kemana? (II)


Yogi Ardhi/Republika

Partai Islam Mau Kemana? (II)
Bendera Partai Keadilan Sejahtera
REPUBLIKA.CO.ID,
oleh: Muhammad Subarkah (wartawan Republika)
Bagi kalangan pemimpin umat Islam, hasil survei itu jelas terasa memilukan meski banyak di antara mereka menyatakan bisa memakluminya. Mengapa sampai seperti itu? Jawaban mereka tampaknya senada, situasi ini terjadi karena publik sampai sekarang masih tetap belum merasakan kiprah yang berarti dari politisi partai yang berasal dari partai Islam atau partai berbasis massa Islam. Alhasil, perolehan suara partai Islam yang cukup besar seperti pada Pemilu 1955 hanya bisa menjadi kenangan yang tidak bisa diwujudkan.

Dan, bila mengkaji sejarah, impian akan kemenangan  Partai Islam di pemilu memang selalu lestari dalam lipatan ingatan. Semua orang pun tahu bahwa pada Pemilu 1955 partai Islam hampir saja keluar menjadi pemenang pemilu atau menjadi kekuatan mayoritas di parlemen. Kala itu perolehan suara yang berhasil dikumpulkan bila digabungkan sangatlah mencengangkan, mencapai 43,9 persen dari total suara yang sah.

Namun, meski sudah lewat lebih dari enam dasawarsa, ternyata perolehan suara itu merupakan hasil tertinggi yang bisa diperoleh oleh para partai Islam hingga masa kini. Di masa awal Orde  Baru, yakni pada Pemilu 1971 yang diikuti oleh empat partai Islam, saat itu PPP sebagai satu-satunya wakil partai Islam, hanya berhasil mengumpulkan suara 27,1 persen. Hal ini terus terjadi pada masa pemilu-pemilu berikutnya, yakni Pemilu 1977, 1982, 1987, 1992, hingga 1997. Selama kurun waktu itu, perolehan suara partai Islam, yang diwakili PPP tak bisa beranjak lebih banyak di atas angka 30 persen.

Situasi yang sama juga terjadi pascajatuhnya rezim Orde Baru atau hadirnya era yang dikenal sebagai Orde Reformasi itu. Pada Pemilu 1999, total suara partai Islam seperti PKB, PAN, PPP, Partai Keadilan, dan PKNU pun hanya mencapai 36,8 persen atau masih jauh di bawah perolehan suara partai Islam di Pemilu 1955 itu. Sedangkan pada Pemilu 2004 perolehan suara mencapai 38,1 persen. Celakanya, pada Pemilu 2009 perolehan suara mereka pun meluncur kembali seperti masa Orde Baru, yakni kembali ke bawah angka 30 persen, yang hanya mencapai 29, 30 persen.

Munculnya situasi itu, berulang-ulang menjadi perhatian mantan ketua umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Muzadi. Dalam berbagai kesempatan pidatonya di banyak forum diskusi ataupun pengajian, dia sudah berkali-kali memprediksi bila perolehan suara partai-partai Islam terancam menurun pada Pemilu 2014.  "Suara partai-partai Islam grafiknya cenderung naik di depan dan turun di belakang," kata Hasyim ketika menyatakan kegelisahannya mengenai penurunan suara partai politik Islam.

Dari pandangan Hasyim, paling tidak ada empat hal yang menjadi penyebab melorotnya perolehan suara partai-partai Islam. Pertama, partai-partai Islam belum berhasil mengimplementasikan cara berpolitik secara Islam. Ini karena partai Islam di Indonesia kesulitan menempatkan posisinya dengan situasi politik yang memang selalu cenderung berujung pada memperjuangkan sisi kepentingan (sekuler). “Ini berakibat partai Islam pun secara perlahan-lahan cenderung menjadi partai sekuler,” ujarnya.

Faktor kedua adalah terjadinya pergesaran sikap dari publik Indonesia akibat meluasnya jaringan media massa dan televisi. Imbasnya, aspek spiritual tidak bisa lagi menjadi objek jualan dari partai Islam. Sedangkan faktor ketiga adalah adanya kenyataan terjadinya kesenjangan antara pendukung dan partai Islam yang didukungnya. Dan, faktor keempat adalah tersebarnya orang Islam di seluruh partai politik yang ada.

Terus tergerusnya kepercayaan pemilih terhadap partai Islam, menurut Hasyim, yang paling mencolok itu terlihat karena ketiadaan keteladanan dari politisi partai tersebut. Mereka masih menjadikan politik sebagai ajang mencari hidup bukan untuk memberikan kehidupan. Istilahnya mereka sibuk mencari pendapatan bukan memperjuangkan ‘pendapatnya’.

Sekjen Partai Persatuan Pembangunan (PPP), M Romahurmuziy, ketika diminta pendapatnya mengenai hasil survei SSS itu mengatakan memberikan perhatian khusus kepada hasil survei itu. Bahkan, dia berjanji akan menjadikan survei itu sebagai masukan untuk melakukan evaluasi sekaligus menjadi ajang introspeksi.

"Bagi PPP, survei elektabilitas partai politik ibarat termometer yang menakar suhu keterpilihan pada saat dilakukan sampling. Atas hasil survei belakangan ini, PPP tentu akan menjadikannya sebagai bahan evaluasi untuk perbaikan diri ke depan," kata Romahurmuziy.

Politikus senior Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Efendy Choirie, secara gamblang juga merasakan adanya kecenderungan perolehan suara partai Islam ataupun partai berbasis massa Islam. Dia pun mengaku posisi partai Islam dalam Pemilu 2014 memang dalam keadaaan berbahaya. Kecenderungan ini, lanjutnya, memang terasa merata di berbagai partai tersebut.

“Saya memang merasakan adanya ancaman itu. Partai Islam banyak yang tidak solid. Ada yang sampai kini sibuk konflik dan ada pula yang masih menggantungkan pendukungnya dari kalangan generasi tua. Masuk akal bila nanti menurun perolehan suaranya,” kata Efendy.


Redaktur: M Irwan Ariefyanto


Bagian Ketiga.
Partai Islam Mau Kemana? (III)







REPUBLIKA.CO.ID, 
oleh: Muhammad Subarkah (wartawan Republika)

Situasi memprihatinkan ini terasa berbeda bila kemudian becermin pada situasi politik yang kini terjadi di kawasan Timur Tengah. Partai-partai Islam malah menggeliat dengan hebat pascatumbangnya kepemimpinan rezim otoriter. Yang paling spektakuler adalah apa yang terjadi di Turki, sudah selama 10 tahun terakhir di bawah kepemimpinan partai Islam, negeri seribu menara itu malah mampu hadir sebagai negara yang maju dan makmur.

Hal yang sama juga telah terjadi di Maroko. Partai berbasis Islam, yakni Partai Keadilan dan Pembangunan, mampu memenangkan pemilu di negara tersebut. Begitu  juga, di Tunisia, melalui partai El Nahda, kekuatan ‘politik Islam’ bisa mendulang kejayaan. Dan kasus yang terakhir adalah hasil Pemilu Mesir. Kekuatan politik partai Islam, yakni Partai Kebebasan dan Keadilan, menjadi mayoritas di parlemen negeri itu.

Melihat kenyataan itu, maka menjadi pertanyaan kita semua apa yang sebenarnya tengah terjadi dalam politik umat Islam Indonesia masa kini. Mengapa mereka cenderung gampang terpecah? Mengapa mereka tak kunjung mendapat dukungan publik yang signifikan? Ataukah jangan-jangan publik sudah begitu alergi terhadap partai Islam?

Akhirnya, kalau survei Soegeng Sarjadi Syndicate benar-benar terjadi pada Pemilu 2014, yakni partai-partai Islam dan berbasis umat Islam terlempar dari parlemen, mungkin inilah akhir episode partai Islam di Indonesia. Benarkah akan terjadi demikian? wallahu a'lam.
Redaktur: M Irwan Ariefyanto

0 komentar:

Poskan Komentar