Subscribe

RSS Feed (xml)

Powered By

Skin Design:
Free Blogger Template

Powered by Blogger

Minggu, 21 Oktober 2012

LARANGAN MENJADIKAN ORANG KAFIR SEBAGAI PEMIMPIN

Writted by : Moch Husen Hadi Legana


Menjadikan orang kafir sebagai pemimpin bagi umat Islam berarti menentang Allah SWT dan Rasulullah SAW serta Ijma' Ulama. Memilih orang kafir sebagai pemimpin umat Islam berarti memberi peluang kepada orang kafir untuk "mengerjai" umat Islam dengan kekuasaan dan kewenangannya.

Berikut ini adalah sejumlah Dalil Qur'ani beserta Terjemah Qur'an Surat (TQS) yang menjadi dasar untuk bersikap dalam memilih pemimpin :

1. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin

QS. 3. Aali 'Imraan : 28.

"Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. Dan hanya kepada Allah kembali(mu)."

QS. 4. An-Nisaa' : 144.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah (untuk menyiksamu) ?"

QS. 5. Al-Maa-idah : 57.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi PEMIMPINMU, orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu, dan orang-orang yang kafir (orang-orang musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman."

2. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai Pemimpin walau Kerabat sendiri :

QS. 9. At-Taubah : 23.

"Hai orang-orang beriman, janganlah kamu jadikan BAPAK-BAPAK dan SAUDARA-SAUDARAMU menjadi WALI (PEMIMPIN / PELINDUNG) jika mereka lebih mengutamakan kekafiran atas keimanan, dan siapa di antara kamu yang menjadikan mereka wali, maka mereka itulah orang-orang yang zalim."

QS. 58. Al-Mujaadilah : 22.

"Kamu tak akan mendapati kaum yang beriman pada Allah dan hari akhirat, saling berkasih-sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekali pun orang-orang itu BAPAK-BAPAK, atau ANAK-ANAK atau SAUDARA-SAUDARA atau pun KELUARGA mereka. Mereka itulah orang-orang yang telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang daripada- Nya. Dan dimasukan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridha terhadap mereka, dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)-Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya hizbullah itu adalah golongan yang beruntung."

3. Al-Qur'an melarang menjadikan orang kafir sebagai teman setia

QS. 3. Aali 'Imraan : 118.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi TEMAN KEPERCAYAANMU orang-orang yang di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. Mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. Sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya."

QS. 9. At-Taubah : 16.

"Apakah kamu mengira bahwa kamu akan dibiarkan sedang Allah belum mengetahui (dalam kenyataan) orang-orang yang berjihad di antara kamu dan tidak mengambil menjadi TEMAN SETIA selain Allah, Rasul-Nya dan orang-orang yang beriman ? Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan."

4. Al-Qur'an melarang saling tolong dengan kafir yang akan merugikan umat Islam

QS. 28. Al-Qashash : 86.

"Dan kamu tidak pernah mengharap agar Al-Quran diturunkan kepadamu, tetapi ia (diturunkan) karena suatu rahmat yang besar dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu menjadi PENOLONG bagi orang-orang kafir."

QS. 60. Al-Mumtahanah : 13.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu jadikan PENOLONGMU kaum yang dimurkai Allah. Sesungguhnya mereka telah putus asa terhadap negeri akhirat sebagaimana orang-orang kafir yang telah berada dalam kubur berputus asa."

5. Al-Qur'an melarang mentaati orang kafir untuk menguasai muslim

QS. 3. Aali 'Imraan : 149-150.

"Hai orang-orang yang beriman, jika kamu MENTAATI orang-orang yang KAFIR itu, niscaya mereka mengembalikan kamu ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kamu orang-orang yang rugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah lah Pelindungmu, dan Dialah sebaik-baik Penolong."

6. Al-Qur'an melarang beri peluang kepada orang kafir sehingga menguasai muslim

QS. 4. An-Nisaa' : 141.

"...... dan Allah sekali-kali tidak akan MEMBERI JALAN kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman."

7. Al-Qur'an memvonis munafiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 4. An-Nisaa' : 138-139.

"Kabarkanlah kepada orang-orang MUNAFIQ bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih. (yaitu) orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mukmin. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah."

8. Al-Qur'an memvonis ZALIM kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 51.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu); sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang ZALIM."

9. Al-Qur'an memvonis fasiq kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 5. Al-Maa-idah : 80-81.

"Kamu melihat kebanyakan dari mereka tolong-menolong dengan orang-orang yang kafir (musyrik). Sesungguhnya amat buruklah apa yang mereka sediakan untuk diri mereka, yaitu kemurkaan Allah kepada mereka; dan mereka akan kekal dalam siksaan. Sekiranya mereka beriman kepada Allah, kepada Nabi dan kepada apa yang diturunkan kepadanya (Nabi), niscaya mereka tidak akan mengambil orang-orang musyrikin itu menjadi penolong-penolong, tapi kebanyakan dari mereka adalah orang-orang yang FASIQ."

10. Al-Qur'an memvonis sesat kepada muslim yang menjadikan kafir sebagai pemimpin

QS. 60. Al-Mumtahanah : 1.

"Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku (janganlah kamu berbuat demikian). Kamu memberitahukan secara rahasia (berita-berita Muhammad) kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah TERSESAT dari jalan yang lurus."

11. Al-Qur'an mengancam azab bagi yang jadikan kafir sbg Pemimpin / Teman Setia

QS. 58. Al-Mujaadilah : 14-15.

"Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang menjadikan suatu kaum yang dimurkai Allah sebagai teman ? Orang-orang itu bukan dari golongan kamu dan bukan (pula) dari golongan mereka. Dan mereka bersumpah untuk menguatkan kebohongan, sedang mereka mengetahui. Allah telah menyediakan bagi mereka AZAB yang sangat keras, sesungguhnya amat buruklah apa yang telah mereka kerjakan."

12. Al-Qur'an mengajarkan doa agar muslim tidak menjadi sasaran fitnah orang kafir

QS. 60. Al-Mumtahanah : 5.

"Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan kami (SASARAN) FITNAH bagi orang-orang kafir. Dan ampunilah kami ya Tuhan kami. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."

Read More......

Al - IMAN


Adopted dari buku dasar-dasar Islam karya Abul a'la maududi
Edited by Asep Dwi Rahman


Setiap Muslim harus meyakini sepenuhnya bahwa karunia Allah yang terbesar di dunia ini adalah Diinul Islam.
Seorang Muslim akan senantiasa bersyukur kepada Allah yang telah memasukkannya ke dalam kelompok Umat Muhammad Rasulullah saw dan telah memberikan kepadanya karunia Islam.
Allah sendiri telah menyatakan Islam sebagai karunia-Nya yang terbesar yang diberikan kepada hamba-hamba-Nya, sebagaimana disebutkan dalam al-Qur'an:

“... Pada hari ini, telah Aku sempurnakan agamamu untukmu dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridhai Islam itu agama bagimu ..."(Qs. al-Maidah, 5 : 3 )


KEWAJIBAN KITA sebagai MUSLIM MENSIKAPI KARUNIA YANG KITA TERIMA

Adalah merupakan kewajiban bagi kita sebagai muslim untuk melaksanakan kewajiban kepada Allah, karena nikmat yang telah diberikan-Nya.
Seseorang yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada orang lain yang telah memberikan sesuatu yang sangat berharga baginya, adalah seorang yang tidak tahu berterima kasih.  Dan manusia yang tidak melaksanakan kewajibannya kepada Allah adalah manusia yang paling tidak tahu berterima kasih.

Mungkin anda akan bertanya: Apakah kewajiban yang harus kita laksanakan kepada Allah yang telah memberikan karunia-Nya kepada kita?
Jawabannya adalah bahwa karena Allah telah memasukkan kita ke dalam kelompok umat Muhammad saw, maka bukti terima kasih yang paling baik yang dapat kita persembahkan kepada Allah adalah dengan cara menunjukkan sikap sebagai pengikut-pengikut Rasulullah saw yang tulus dan setia.
Dan Karena Allah telah memasukkan kita ke dalam kelompok masyarakat Muslim, maka satu-satunya cara untuk memperlihatkan rasa terima kasih kita kepada-Nya adalah menjadi seorang Muslim yang benar.

Inilah kewajiban kita dalam mensyukuri karunia-nya, tidak ada cara lain bagi kita dalam menyatakan rasa syukur kita hanya dengan cara demikian. Bila sebaliknya, maka hukuman atas sikap kita yang tidak tahu berterima kasih, akan Allah berikan kepada kita. Semoga Allah menghindarkan kita dari hukuman itu, Amiin...


LANGKAH PERTAMA menjadi SEORANG MUSLIM

Anda mungkin akan bertanya: "Bagaimana seseorang menjadi
seorang Muslim yang sebenarnya?". Jawabannya adalah jawaban dari beberapa pertanyaan dibawah ini :

Marilah kita pikirkan apa sebenarnya arti kata Muslim yang kita gunakan setiap waktu, dengan memikirkan beberapa pertanyaan berikut:

> Apakah seseorang sudah membawa Islam pada waktu ia dilahirkan?
> Apakah seseorang disebut Muslim karena ibu-bapaknya atau kakaknya    adalah Muslim ?
> Apakah seorang Muslim terlahir begitu saja sebagai seorang Muslim, sebagaimana halnya seorang bangsawan lahir sebagai bangsawan, atau seorang anak dari kasta Brahmana lahir sebagai seorang Brahmana, atau seorang anak Sudra lahir sebagai seorang Sudra ?
> Apakah Muslim itu nama suatu bangsa seperti Indonesia dimana saat kita lahir langsung mendapat status orang Indonesia ? dan
> Apakah seorang Muslim disebut Muslim karena dia lahir di tengah
masyarakat Muslim, seperti seorang lndonesia disebut orang Indonesia karena lahir di tengah-tengah masyarakat Indonesia ?

Bagaimana jawaban anda terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut di atas ? Saya kira - bahkan saya yakin - anda akan menjawab: "Tidak". Artinya seseorang tidak lazim disebut Muslim karena alasan-alasan tersebut di atas. Tetapi seseorang dikatakan Muslim apabila ia menerima sepenuhnya (qobul) terhadap Islam sebagai Agamanya. Kalau ia melepaskan agama Islam, maka secara otomatis berhenti menjadi Muslim.
Seorang yang beragama Hindu, kristen, atau seorang bangsawan, atau seorang Indonesia akan termasuk dalam kelompok masyarakat Muslim kalau mereka menerima Islam sebagai Agamanya. Sebaliknya, seorang yang lahir di tengah-tengah keluarga Muslim akan dikeluarkan dari masyarakat Muslim kalau ia melepaskan Islam sebagai Agamanya, walaupun ia anak seorang kyai".

Itulah jawaban yang saya yakini dan yang patut anda berikan, atau yang anda setujui. Dan dari jawaban tersebut kita boleh menyimpulkan bahwa anugerah Allah yang terbesar adalah sebutan sebagai seorang Muslim  yang mana sebutan itu bukanlah seperti harta, bangsa atau kesukuan yang
secara langsung anda warisi dari orang tua anda dan terus melekat pada diri anda selama hidup, baik anda sadari atau tidak, tetapi sebutan Muslim adalah suatu karunia yang harus anda peroleh dengan usaha.

Kalau anda melakukan usaha untuk memperolehnya, maka anda akan mendapatkannya; sebaliknya bila anda tidak memperdulikannya, walaupun anda sudah memperolehnya, maka sebutan Muslim yang Berharga itu akan dicabut dari anda. Na'udzu billah min dzalik.


PENGERTIAN MENERIMA ISLAM

Sebelumnya sudah disampaikan bahwa seseorang dapat menjadi seorang Muslim apabila ia menerima Islam sebagai Agamanya.

Pertanyaan selanjutnya adalah Apa artinya menerima Islam itu ?
> Apakah ini berarti bahwa siapapun yang mengucapkan,"saya adalah seorang Muslim atau saya telah menerima Islam" otomatis menjadi seorang Muslim ?
>  Apakah ini berarti seperti seorang penganut Brahmana yang mengucapkan mantra-mantra berbahasa Sanskrit, atau seperti seseorang yang mengucapkan kalimat-kalimat berbahasa Arab, walaupun tidak memahami makna yang terkandung dalam ucapan mereka, pantas disebut seorang Muslim?

Sekarang tentu anda dapat menjawab pertanyaan di atas dengan pasti bahwa jawabannya : "Tidak".  Anda pasti akan mengatakan bahwa arti menerima Islam adalah bahwa seseorang harus dengan penuh kesadaran dan kesengajaan menerima apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah Muhammad saw, dan bertindak sesuai dengan ajaran tersebut.  Barangsiapa yang berbuat demikian, maka ia adalah seorang Muslim, dan sebaliknya barangsiapa yang tidak berbuat demikian, ia bukanlah seorang Muslim.

Agar kita mampu menerima Islam sebagaimana pengertian diatas, maka ada dua syarat yang harus dipenuhi yaitu, Ilmu Pengetahuan dan Amal Perbuatan.


Syarat Pertama : Ilmu Pengetahuan

Seseorang dapat menjadi Brahmana tanpa memiliki pengetahuan, kerana ia lahir sebagai Brahmana dan akan terus hidup sebagai Brahmana.  Demikian pula seseorang yang lahir dari orang tua berdarah ningrat akan menjadi ningrat pula, walaupun ia tidak memiliki pengetahuan apapun namun karena ia lahir sebagai ningrat maka ia akan tetap disebut seorang ningrat sampai akhir hayatnya.

Tetapi, seseorang tidak dapat menjadi seorang Muslim tanpa memiliki pengetahuan, karena Islam tidak diperoleh karena faktor keturunan melainkan karena Ilmu Pengetahuan. Kalau seseorang tidak mengetahui apa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad saw, bagaimana ia boleh menyatakan keimanannya kepada ajaran tersebut dan mengamalkannya ?. Dan bila ia menyatakan keimanannya tanpa kesadaran dan pemahaman mengenai ajaran tersebut, bagaimana ia dapat menjadi seorang Muslim?. Adalah tidak mungkin untuk menjadi seorang Muslim dan hidup sebagai seorang Muslim tanpa mengetahui apa-apa.
Seseorang yang dilahirkan ditengah-tengah keluarga Muslim, mempunyai nama seperti seorang Muslim, berpakaian seperti seorang Muslim, dan menyatakan dirinya sebagai seorang Muslim, sebenarnya dia bukanlah seorang Muslim bila tanpa Ilmu Pengetahuan yang melahirkan kesadaran dan pemahaman terhadap Islam. Karena, seorang Muslim yang sebenarnya hanyalah seorang yang tahu, apa makna Islam yang sebenarnya dan menyatakan keimanannya kepada Islam dengan penuh kesadaran.

Perbedaan yang sebenarnya antara seorang kafir dengan seorang Muslim bukanlah perbedaan dalam nama. Nama Joni tidaklah berarti bahwa  pemiliknya adalah seorang kafir dan nama Abdullah adalah seorang Muslim.
Demikian pula orang yang memakai celana jeans tidak berarti dia seorang kafir, dan yang memakai sarung adalah seorang Muslim.  Tidak, tidak demikian. Namun kesejatian perbedaan antara seorang kafir dan seorang muslim adalah dalam ilmu Pengetahuan.

Seseorang adalah kafir karena ia tidak tahu bagaimana hubungan dirinya dengan Allah dan hubungan Allah dengan dirinya, dan tidak tahu cara hidup yang harus dijalaninya di dunia ini, yang sesuai dengan kehendak Allah.
Apabila seorang anak dari orang tua yang Muslim tidak mempunyai pengetahuan mengenai hal ini, maka apa alasannya bagi kita untuk menganggap dirinya sebagai seorang Muslim ?

Sahabat - sahabatku....
Saya minta anda semua mendengarkan baik-baik apa yang sedang saya uraikan dengan penuh tekanan ini, dan memikirkannya dengan tenang tanpa emosi. Kita semua harus mengerti sebenar-benarnya bahwa memperoleh atau kehilangan kurniaan Allah yang terbesar yang anda syukuri itu, tergantung seluruhnya pada ilmui pengetahuan.  Bila anda tidak mempunyai pengetahuan itu, anda sama-sekali tidak akan dapat memperoleh kurnia itu.  Bahkan kalau anda mempunyai sebagian kecil saja dari anugerah itu, maka karena ketidaktahuan anda, anda akan selalu terancam bahaya kehilangan karunia milik anda itu.
Orang yang mestinya boleh memiliki anugerah yang besar itu, karena kebodohannya, mungkin akan menganggap bahwa dirinya adalah seorang Muslim, padahal sebenarnya ia bukanlah seorang Muslim.  Perumpamaan orang yang sama-sekali tidak tahu perbedaan antara Islam dan kufur serta perbedaan antara Islam dan syirik adalah ibarat seseorang yang sedang berjalan pada sebuah lorong yang gelap. Mungkin sekali, ketika ia sedang mengikuti sebuah lorong yang lurus, karena dalam kegelapan langkahnya menyeleweng ke arah yang lain dan ia tidak sadar bahwa ia telah menyeleweng dari arah yang lurus yang harus ditempuhnya.
Dan mungkin sekali terjadi, di tengah jalan ia akan bertemu dengan seorang thoghut dan dajjal yang akan mengatakan kepadanya: "Hai Nak! Kamu telah tersesat dalam kegelapan. Mari, kupimpin engkau kepada tujuanmu".  Karena dalam kegelapan, pejalan yang malang itu, tidak mampu melihat dengan matanya sendiri mana arah yang lurus sehingga tanpa curiga apa-apa, ia akan segera menyambar tangan si thoghut dan dajjal dan terus berpegang kepadanya, dan si thoghut dan dajjal akan membawanya ke jalan yang sesat. Bahaya ini mungkin sekali akan menimpa pejalan tersebut, karena ia sendiri tidak memiliki pelita apa pun sebagai penerang dan akibatnya ia tidak bisa melihat tanda-tanda di sepanjang jalan yang ditempuhinya.
Namun apabila ia mempunyai pelita, tentulah ia tidak akan tersesat atau disesatkan oleh orang lain. Dan pelita itu adalah Ilmu Pengetahuan.
Dari perumpamaan ini anda boleh memahami bahwa, bahaya terbesar bagi seorang Muslim adalah tidak memiliki pengetahuan akan ajaran Islam yang diajarkan oleh al-Qur'an dan apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw.  Karena dengan tidak mempunyai pengetahuan, ia pasti akan meraba-raba sepanjang jalan, dan akan disesatkan oleh Thoghut dan dajjal.

Tetapi bila seorang muslim memiliki ilmu pengetahuan, ia pasti mampu melihat jalan Islam yang lurus pada setiap langkah dalam hidupnya, menghindari jalan-jalan kufr, syirk, bid'ah dan tidak bermoral yang menghalangi jalannya. Dan bila seorang penyesat ditemuiya di tengah jalan, maka setelah bertukar ilmu pengetahuan sejenak dengannya, ia pasti akan segera sadar, bahwa orang yang ditemuinya itu adalah seorang yang jahat dan menyesatkan yang tidak boleh diikuti.


Saudara-saudaraku...
Pada pengetahuan inilah, yang sekarang sedang saya jelaskan kepentingannya, ini bukanlah hal yang remeh yang boleh anda
abaikan.
Coba kita renungkan perbandingan sederhana ini... Anda selalu bersikap penuh perhatian dalam mengerjakan sawah ladang anda, mengairi dan melindungi tanaman-tanaman anda, memberi makan ternak anda dan mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang bersangkut paut dengan mata-pencarian anda yang lain.  Karena, anda berpikir bila anda tidak bekerja dengan penuh perhatian, anda pasti akan kelaparan dan kehilangan sesuatu yang sangat berharga bagi anda, yakni nyawa anda.
Maka, kenapa anda tidak bersikap serius dan bersunguh-sungguh dalam mencari ilmu pengetahuan tentang Islam yang benar dan lurus dimana pada pengetahuan inilah terdapat hakikat anda sebagai seorang Muslim dan wafat dalam keadaan Muslim. Bukankah bila anda tidak serius dan bersungguh-sungguh dalam memperoleh Ilmu pengetahuan tersebut, anda  terancam bahaya kehilangan sesuatu yang sangat berharga, yaitu iman ?. Bukankah iman lebih berharga daripada hidup ?.
Dari sekian banyak waktu yang anda habiskan untuk bekerja demi hidup anda, tidak dapatkah anda memperuntukkan sepersepuluh daripadanya untuk hal-hal yang dapat melindungi Iman anda ?.
Saya tidak mengatakan bahwa setiap orang dari anda semua harus menjadi seorang ulama, membaca kitab-kitab yang tebal dan menghabiskan waktu sepuluh atau belasan tahun untuk usaha tersebut.  Anda tidak perlu membaca kitab yang tebal-tebal untuk menjadi seorang Muslim. namun saya hanya mengharapkan bahwa setiap orang dari anda menyediakan waktu minimal satu jam saja dari dua puluh empat jam yang anda miliki dalam sehari-semalam untuk mempelajari pengetahuan tentang ad-dinul Islam. Itulah waktu paling sedikit yang harus disediakan oleh setiap orang Muslim, baik pemuda, orang dewasa maupun yang sudah lanjut usia, untuk mempelajari pengetahuan yang memungkinkannya untuk memahami kepentingan ajaran al-Qur'an dan tujuan diwahyukannya al-Qur'an tersebut.
Setiap orang Muslim harus mengerti sebenar-benarnya risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw ke dunia ini. la harus mengerti sebenar-benarnya aturan hidup mana yang harus ditegakkan di dunia ini, dan aturan hidup mana yan harus dimusnahkan dan diganti. Ia juga-harus mengenal dengan baik cara hidup khusus yang telah ditetapkan Allah bagi orang-orang Muslim. Tidak banyak waktu yang dituntut untuk memperoleh pengetahuan yang diperlukan untuk itu.
Dan bila Iman lebih berharga bagi anda daripada segalanya, maka tidak akan sulit bagi anda untuk menyediakan waktu satu jam setiap hari untuk mempelajari pengetahuan tersebut. Insya Allah.


PERBEDAAN ANTARA SEORANG MUSLIM DAN SEORANG KAFIR

Kenapa seorang muslim berbeda dengan seorang kafir ?

Sahabat - sahabatku kaum muslimin.

Setiap Muslim percaya bahawa seorang Muslim lebih tinggi derajatnya daripada seorang kafir ?.
Allah mencintai  seorang Muslim dan membenci orang kafir.
Seorang Muslim akan memperoleh keselamatan dari Allah, sedangkan seorang kafir hanya akan memperoleh kerugian dan kecelakaan.
Seorang Muslim akan masuk ke Syurga dan seorang kafir akan masuk ke
neraka.

Marilah kita pikirkan sedalam-dalamnya, mengapa ada perbedaan yang begitu besar antara seorang Muslim dan seorang kafir.  Padahal seorang kafir  juga adalah keturunan Adam, seperti kita semua. la juga seorang manusia yang punya tangan, kaki, mata. Dan sebagaimana kita semua, ia pun bernafas dengan udara yang sama, minum air yang sama, dan hidup di bumi yang sama. Allah yang menciptakan kita, adalah PenciptaNya juga. Tapi mengapa derajat mereka, orang kafir rendah dan derajat kita sebagai muslim tinggi ? Mengapa kita semua sebagai muslim akan masuk syurga dan mereka masuk neraka ?



Apakah perbedaannya karena soal nama saja ?

Sahabat- sahabatku....
Ini adalah suatu masalah yang harus kita pikirkan secara mendalam. Perbedaan yang begitu besar antara seorang Muslim dan seorang kafir, tidak mungkin disebabkan karena seorang benama Abdullah dan Abdurrahman, sedang yang lain bernama Joni dan Robertson; atau karena yang seorang dikhitan dan yang lain tidak; atau karena yang seorang tidak memakan daging babi dan yang lain memakannya.
Allah Yang Maha Kuasa, yang telah menciptakan alam seluruh manusia dan memberinya rezeki, tidak mungkin bertindak sedemikian kejam, mendiskriminasikan antara makhlukNya, memasukkan hambaNya yang satu ke syurga sedang yang lain ke neraka hanya karena soal-soal kecil seperti itu.


Perbedaan muslim dan kafir sebenarnya.

Apabila memang perbedaan yang besar dalam kedudukan seorang Muslim dengan seorang kafir bukanlah karena soal nama, khitan dan daging babi. Kalau begitu, apakah perbedaan yang sebenarnya antara keduanya ? Jawabannya hanyalah satu, yakni karena Islam dan kufur.  Islam berarti kepatuhan kepada Allah sedangkan kufur berarti ketidakpatuhan kepada Allah. Orang Muslim dan orang kafir kedua-duanya adalah manusia. Kedua-duanya adalah hamba Allah.  Tetapi yang satu, berkedudukan mulia karena ia mengakui Allah, dan mematuhi perintah-perintahNya. Yang satu takut akan hukuman yang akan diberikan-Nya bila ia tidak mematuhi perintah-perintah-Nya.

Sedangkan yang satu lagi terperosok dari kedudukan yang tinggi itu karena ia tidak mengakui Allah dan tidak mau melaksanakan perintah-Nya. Inilah sebabnya mengapa Allah mencintai kepada orang-orang Muslim dan membenci kepada orang-orang kafir. Allah menjanjikan karunia syurga bagi orang-orang Muslim, dan memperingatkan orang-orang kafir bahwa mereka akan dimasukkan ke dalam neraka.


SEBAB PERBEDAAN: ILMU PENGETAHUAN DAN AMAL  PERBUATAN

Dari uraian di atas jelaslah bahwa ada dua perkara yang membedakan seorang Muslim dengan seorang kafir.

Yang pertama adalah ilmu pengetahuan dan yang kedua amal perbuatan.  Pengetahuan berarti bahwa seorang Muslim harus tahu siapa TuhanNya, apa perintah-perintahNya, bagaimana cara-cara untuk menuruti kehendakNya, perbuatan - perbuatan mana yang disukai-Nya dan mana yang tidak disukai-Nya.  Bila ia sudah tahu akan hal-hal tersebut, maka langkah yang kedua ialah bahwa ia harus menjadikan dirinya sebagai budak dari Robbnya, melaksanakan kehendak-kehendak-Nya, dan mengabaikan kehendaknya sendiri.
Bila hatinya ingin melakukan sesuatu perbuatan, tetapi perbuatan itu bertentangan dengan perintah Robbnya, maka ia harus melepaskan keinginannya sendiri dan melaksanakan perintah Robbnnya. Apabila suatu perbuatan kelihatan mulia di matanya, tetapi Tuhannya mengatakan bahwa perbuatan itu hina, maka ia harus memandangnya hina pula.  Sebaliknya, bila suatu perbuatan nampak hina dimatanya, tetapi Robbnya mengatakan mulia, maka ia harus memandangnya mulia pula.  Apabila ia melihat bahwa sesuatu pekerjaan mengandung bahaya, tetapi RobbNya mengatakan bahwa pekerjaan itu harus dilakukan, maka bagaimanapun juga ia mesti mengerjakannya, walaupun ia mungkin akan kehilangan harta benda bahkan nyawanya. Sebaliknya, apabila ia memandang bahwa sesuatu pekerjaan akan mendatangkan keuntungan baginya, tetapi Robbnya melarang pekerjaan tersebut, maka ia harus meninggalkannya, walaupun pekerjaan tersebut boleh mendatangkan keuntungan sebanyak harta benda yang ada di seluruh dunia ini.
lnilah pengetahuan dan perbuatan yang menjadikan seorang Muslim sebagai hamba Allah yang sejati, yang mendapat limpahan rahmat-Nya serta kedudukan yang luhur dan mulia.
Sebaliknya, karena seorang kafir tidak memiliki pengetahuan ini, ia dimasukkan ke dalam golongan hamba Allah yang membangkang dan tidak mendapat limpahan rahmat-Nya.
Sekarang, seandainya ada seseorang yang menyatakan dirinya seorang Muslim, tetapi ia sama bodohnya tentang Islam dengan seorang kafir, dan sama pula pembangkangannya kepada Allah, dapatkah kita mengatakan dengan menggunakan pertimbangan yang adil, bahwa kedudukannya lebih tinggi daripada seorang kafir, semata-mata karena ia memiliki nama yang berbeda, memakai pakaian yang berbeda dan memakan makanan yang berbeda dengan orang kafir tersebut ? Dan apa pula alasannya untuk mengatakan bahwa ia berhak memperoleh rahmat Allah di dunia dan di akhirat ?
Islam bukanlah sesuatu yang bersifat kebangsaan, kekeluargaan atau persaudaraan yang secara langsung diwarisi oleh orangtua kepada anak dan dari anak kepada cucu.  Kedudukan sebagai seorang Muslim tidaklah diperoleh karena keturunan sebagaimana halnya kasta, di mana anak seorang Brahmana akan tetap memperoleh kedudukan yang tinggi, walaupun betapa bodoh dan jahat perangainya, karena ia memang lahir dalam keluarga Brahmana yang berkedudukan tinggi.  Sementara itu, anak dari orangtua berkasta rendah akan tetap berkedudukan rendah, karena memang ia lahir di tengah-tengah keluarga yang berkasta rendah.  Dalam hal ini Allah telah menyatakan dalam KitabNya:

“... Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa di antara kamu... " (Qs. al-Hujurat (49):13)

Artinya, semakin banyak orang mengetahui tentang Allah dan semakin mentaati perintah-Nya, maka akan semakin tinggi pulalah kedudukannya di mata Allah.
Nabi Ibrahim 'alaihissalam dilahirkan di tengah-tengah keluarga seorang penyembah berhala, tetapi beliau mengenal Allah dan mentaati perintah-Nya.  Itulah sebabnya Allah mengangkatnya sebagai imam seluruh dunia.  Sementara Anak Nabi Nuh dilahirkan dalam keluarga seorang nabi, tetapi ia tidak mengerti tentang Allah dan tidak mentaati perintahNya; ia nista dan celaka. Itulah sebabnya mengapa Allah menghukumnya sedemikian rupa tanpa mempedulikan keluarganya, hingga kisahnya menjadi contoh bagi seluruh dunia.

Karena itu marilah kita pahami benar-benar bahwa apa pun perbedaan yang ada diantara seorang manusia dengan manusia yang lain, dalam pandangan Allah hal itu berhubungan erat dengan pengetahuan dan perbuatan. Baik di dunia ini maupun di akhirat nanti, rahmat Allah dilimpahkan kepada mereka yang mengerti akan Allah, tahu jalan yang benar yang ditunjukkan-Nya, dan melaksanakan perintah-perintah-Nya.  Mereka yang tidak memenuhi syarat-syarat ini sama saja kedudukannya dengan mereka yang kafir, dan tidak berhak memperoleh rahmat-Nya, tidak peduli mereka bernama Abdullah, Abdurrahman, Joni atau Kartar Singh.

MENGAPA ORANG-ORANG MUSLIM TERHINA SEKARANG INI ?

Saudara-saudaraku...

Kita semua menamakan diri orang-orang Muslim, dan kita yakin Allah melimpahkan rahmat-Nya kepada orang-orang Muslim.  Tetapi marilah kita buka mata dan kita lihat apakah rahmat Allah dilimpahkan kepada kita atau tidak.  Apa pun yang terjadi di akhirat, itu adalah urusan nanti, tetapi yang penting marilah kita lihat
kedudukan kita di dunia ini.  Kita kaum Muslimin di Hindustan ini berjumlah 90 juta orang (sebelum India terbahagi menjadi India dan Pakistan) jumlah kita demikian besar sehingga bila masing-masing kita melemparkan sebuah batu, maka longgokan batu itu akan menjadi sebuah gunung. Tetapi di negeri yang begitu banyak orang-orang Muslimnya ini, pemerintahan berada di tangan orang-orang kafir.
Tengkuk kita berada dalam cengkeraman tangan mereka, dan mereka memutar kepala kita ke arah mana sahaja yang mereka sukai.  Padahal seharusnya kepala kita tidak kita tundukkan di depan siapa pun juga kecuali Allah, tetapi sekarang kita tunduk di hadapan manusia - manusia yang sama seperti kita juga.  Kehormatan kita yang semestinya tidak boleh dinodai oleh siapa pun juga, sekarang berlumuran tanah. Tangan
kita yang selama ini selalu di atas sekarang berada di bawah dan menadah di hadapan orang-orang kafir.
Kebodohan, kemiskinan dan hutang telah merendahkan derajat kita di mana-mana.
Apakah ini semua rahmat Allah ? Apabila ini semua bukan rahmat melainkan kemurkaan, maka alangkah anehnya bahwa kita sebagai orang-orang Muslim mendapatkan kemurkaan Allah ! Kita semua orang-orang Muslim, tetapi kita berkubang dalam lumpur kehinaan, kita semua orang-orang Muslim, tetapi kita hidup sebagai budak-budak ! Situasi seperti ini kelihatannya betul-betul tidak mungkin, seperti tidak mungkinnya suatu benda dalam waktu yang sama berwarna hitam dan putih. Bila seorang Muslim adalah seorang yang dicintai Allah, bagaimana mungkin hidup terhina di dunia ini? Apakah Allah, (na’udzu billah min dzalik), seorang dewa penindas hingga sementara kita menjalankan kewajipan-kewajipan  terhadapNya dan  mentaati perintah-perintahNya, Dia membiarkan orang-orang yang menentangNya memerintah kita dan menghukum kita kerana kepatuhan kita kepadaNya? Apabila kita percaya bahawa Allah bukanlah penindas dan bila kita percaya bahawa balasan kepatuhan kepada Allah tidak mungkin berupa kehinaan, maka kita semua harus mengakui bahwa ada sesuatu yang salah dalam pengakuan kita sebagai orang-orang Muslim.  Walaupun dalam kartu penduduk kita tercatat sebagai orang-orang Muslim, tetapi Allah tidak memberikan penilaian berdasarkan keaslian kartu penduduk yang dikeluarkan oleh pemerintah.  Allah punya pejabat sendiri.  Kita harus mencari dalam daftarNya untuk melihat apakah nama kita termasuk dalam kelompok hamba-hambaNya yang patuh ataukah dalam kelompok yang tidak patuh ?

Allah mengirimkan KitabNya kepada kita, hingga dengan membacanya kita dapat mengenal-Nya dan tahu cara-cara untuk menjadi hambaNya yang patuh. Apakah kita pernah mencuba untuk mengetahui apa yang tertulis dalam Kitab itu? Allah mengutus RasulNya kepada kita untuk mengajar kita cara menjadi seorang Muslim. Apakah kita pernah mencuba mengetahui apa yang diajarkan oleh utusanNya itu ? Allah menunjukkan kepada kita jalan untuk memperoleh kehormatan dan kemuliaan di dunia ini dan di akhirat nanti.  Apakah kita sudah menuruti jalan tersebut? Allah dengan jelas memberitahukan kepada kita perbuatan-perbuatan yang bagaimana yang dapat merendahkan kedudukan manusia di dunia ini dan di akhirat nanti.  Apakah perbuatan-perbuatan tersebut sudah kita hindari ? Jawaban apa yang dapat kita berikan kepada
pertanyaan-pertanyaan ini ? Bila kita mengetahui bahawa kita tidak mempunyai pengetahuan dari Kitab Allah dan dari kehidupan Utusan-Nya dan tidak pula mengikuti jalan yang ditunjukkan olehNya, maka bagaimana kita boleh disebut orang-orang Muslim yang patut menerima rahmatNya? Pahala yang kita peroleh adalah sebanding dengan derajat kita sebagai Muslim, dan kita akan memperoleh balasan yang seperti itu pula diakhirat nanti.

Saya telah menyatakan sebelumnya bahwa secara mutlak tidak ada perbezaan antara seorang Muslim dengan seorang kafir, kecuali dalam masalah ilmu pengetahuan dan amal perbuatan.
Apabila pengetahuan dan perbuatan seseorang sama dengan pengetahuan seorang kafir, sedangkan dia menyebut dirinya seorang Muslim, maka ucapannya itu adalah dusta yang tidak tahu malu.  Seorang kafir tidak suka membaca al-Qur'an dan tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya.  Apabila seseorang yang mengaku Muslim keadaannya juga demikian, bagaimana ia dapat disebut seorang Muslim?
Seorang kafir tidak mengetahui apa yang diajarkan oleh Rasulullah saw dan jalan lurus yang telah ditunjukkannya untuk menuju kepada Allah.  Apabila seorang yang mengaku dirinya Muslim sama bodohnya seperti ini, bagaimana ia boleh disebut seorang Muslim?
Seorang kafir hanya mengikuti kemauannya sendiri, bukan perintah Allah.  Apabila seorang yang mengaku Muslim sama seperti ini, keras-kepala, dan hanya mengikuti pikiran dan pendapatnya sendiri, mengacuhkan Allah, dan menghamba kepada kemauannya sendiri, maka bagaimana ia mempunyai hak untuk menyebut dirinya seorang Muslim (hamba Allah yang patuh) ?
Seorang kafir tidak membedakan antara yang halal dan yang haram, dan mengambil apa saja yang menguntungkan dan menyenangkan baginya, tanpa mempedulikan apakah itu halal atau haram dalam pandangan Allah.  Apabila seorang yang menyebut dirinya Muslim tingkah-lakunya sama dengan seorang yang bukan Muslim, apa bezanya dia dengan seorang kafir ? Ringkasannya, apabila pengetahuan seorang Muslim tentang Islam sama bodohnya dengan pengetahuan seorang kafir tentang Islam, dan ia (Muslim) melakukan perbuatan-perbuatan yang dilakukan seorang kafir, maka bagaimana ia dapat dianggap lebih tinggi kedudukannya daripada seorang kafir ? Atau bukankah hal ini sama dengan perbuatan seorang  kafir ?
Semua ini adalah masalah yang harus kita renungkan dalam keadaan yang tenang.

MASALAH YANG HARUS DIPERTIMBANGKAN DENGAN SERIUS.

Saudara-saudaraku yang tercinta!

Janganlah saudara-saudara mengira bahwa saya mau men'cap' orang-orang Muslim sebagai orang-orang kafir. Sama sekali tidak, bukan begitu maksud saya.  Saya hanya mengajak saudara-saudara untuk berfikir dan merenungkan mengapa kita semua tidak memperoleh Rahmat Allah.

Mengapa kita menjadi korban bencana dari segala penjuru ?
Mengapa mereka yang kita sebut orang-orang kafir,  yakni hamba-hamba Allah yang membangkang kepada-Nya, di mana-mana menguasai kita ? Dan mengapa kita, yang menyatakan diri sebagai hamba-hamba-Nya yang patuh, diperbudak orang di mana-mana ? Semakin saya merenungkan sebab dari situasi ini, semakin saya merasa yakin bahwa satu-satunya perbedaan yang tinggal antara kita dengan orang-orang kafir sekarang ini hanyalah perbedaan dalam nama saja, sedangkan kita sama lupanya kepada Allah dengan mereka, sama tidak takutnya kepada-Nya, dan sama pula pembangkangnya dengan mereka, orang-orang kafir.  Tentu saja ada perbedaan sedikit antara kita dan mereka, tetapi perbedaan ini demikian kecil dan tidak berarti apa-apa. Justeru perbedaan itu membuat kita semakin patut memperoleh hukuman dari Allah, karena kita tahu bahwa al-Qur'an adalah Kitab Allah tetapi kita memperlakukannya seperti perlakuan yang diberikan orang-orang kafir kepadanya.
Kita tahu bahwa Muhammad saw adalah Utusan Allah, tetapi kita, seperti halnya orang-orang kafir, takut untuk mengikutinya.
Kita tahu bahwa Allah mengutuk para pembohong dan telah menyatakan dengan tegas bahwa tempat tinggal orang-orang yang mensuap dan yang menerima suap adalah neraka.

Dia telah menyatakan bahwa para pengambil dan para pemberi riba adalah penjahat-penjahat yang paling keji. Dia telah mengatakan bahwa membicarakan orang lain adalah seperti memakan daging saudara sendiri yang telah mati.
Dia telah memperingatkan bahawa kata-kata dan perbuatan-perbuatan yang kotor, kebiadaban dan perbuatan-perbuatan yang cabul akan dihukum dengan hukuman yang pedih. Tetapi walaupun kita mengerti itu semua, namun kita melakukannya dengan bebas seperti orang-orang kafir, seolah-olah kita sama sekali tidak takut kepada Allah.  Inilah sebabnya mengapa kita tidak memperoleh Rahmat, karena kita tampaknya saja adalah orang-orang Muslim, tetapi sebenarnya kelakuan kita sama saja dengan orang-orang kafir.
Kenyataan bahwa orang-orang kafir menguasai dan memerintah kita, dan kehinaan kita di tangan mereka pada setiap peristiwa, adalah bentuk hukuman atas kejahatan kita yang sudah tidak menghargai nikmat karunia Islam yang telah dilimpahkan kepada kita.

Saudara-saudaraku yang tercinta !

Apa yang saya katakan pada hari ini tidaklah ditujukan untuk menyalahkan anda semua. Kedatangan saya ke sini bukanlah untuk mencela saudara-saudara.  Maksud saya hanyalah untuk menyadarkan dan mengajak anda semua untuk memperoleh kembali apa yang telah hilang dari tangan kita.
Keinginan untuk memperoleh kembali harta yang hilang akan timbul, bila seseorang menyadari apa yang telah hilang dari tangannya dan betapa bernilainya harta yang hilang itu.  Kerana itulah saya mencoba untuk menyadarkan anda semua.  Bila anda semua mengerti dan sadar bahwa sesungguhnya anda dahulu pernah memiliki suatu harta yang tidak ternilai harganya, yang kemudian hilang dari tangan anda, maka anda pasti akan berpikir untuk memperoleh harta itu kembali.

KEMAUAN UNTUK MEMPEROLEH ILMU PENGETAHUAN

Dalam khutbah saya yang telah lalu saya telah mengatakan kepada anda bahwa untuk menjadi seorang Muslim sejati, syarat yang pertama-tama harus dimiliki adalah ilmu pengetahuan tentang Islam.
Setiap Muslim harus mengetahui apa yang diajarkan oleh al-qur'an, sistem kehidupan apa yang diikuti oleh Rasulullah, apakah makna Islam, dan hal-hal apa sebenarnya yang membedakan Islam dan kufur.
Tidak seorang pun yang lazim menjadi seorang Muslim tanpa mengetahui hal-hal ini. Tetapi sayang sekali bahwa anda semua tampaknya tidak ghairah untuk memperoleh pengetahuan tersebut. Ini menunjukkan bahawa anda semua masih belum menyadari betapa besar kurnia yang terlepas dari tangan anda.
Saudara-saudaraku ! Seorang ibu tidak akan memberikan air susunya kepada anaknya sebelum si anak menangis minta disusui. Kalau seorang
manusia merasa haus, dia sendiri harus mencari air dan Allah pun sudah menyediakan air itu.  Bila anda sendiri tidak merasa haus, tidak akan ada gunanya sebuah sumber air yang memancar di hadapan anda.  Jadi anda harus menyadari terlebih dahulu betapa besar kerugian anda dengan tidak memahami din. Kitab Suci Allah ada beserta anda, tetapi anda tidak tahu apa yang tertulis di dalamnya. Kerugian apa yang lebih besar daripada ini ? Anda bahkan tidak mengetahui makna kalimah syabadah yang dengan membacanya anda menjadi seorang Muslim; tidak pula anda mengetahui tanggungjawab apa yang terpikul di atas bahu anda setelah anda membaca kalimah tersebut. Adakah kerugian yang lebih besar bagi seorang Muslim selain daripada ini ?
Anda tahu besarnya kerugian anda bila padi di sawah anda terbakar; anda tahu sengsaranya orang yang tidak punya pekerjaan; anda boleh merasakan sedihnya kehilangan harta benda. Tetapi anda tidak tahu betapa ruginya orang yang tidak tahu tentang ajaran Islam. Kalau anda menyadari kerugian ini maka anda akan berusaha sendiri untuk menebus kerugian ini.  Dan bila anda sendiri mau berusaha, maka Insya Allah, Allah akan memberikan jalan bagi anda untuk memperoleh kembali harta anda yang telah hilang itu, dan Allah menyelamatkan anda dari kerugian yang besar ini.

MASALAH-MASALAH YANG HARUS DIRENUNGKAN

PERLAKUAN KITA TERHADAP AL-QURAN

Saudara-saudara sesama Muslim!

Umat Islam adalah satu-satunya umat yang paling beruntung di dunia sekarang ini karena mereka memiliki Wahyu Allah yang terpelihara dalam keadaan utuh dan dalam bentuknya yang asli, bebas dari kekotoran campur-tangan manusia.  Setiap kata-kata yang ada di dalamnya masih persis sama dengan ketika ia diturunkan kepada Rasulullah saw.  Namun umat Islam ini juga adalah orang-orang yang paling malang di dunia ini, karena, walaupun mereka memiliki Wahyu Allah tetapi mereka tidak dapat memperoleh berkat dan manfaat wahyu tersebut, yang sebenarnya tidak terhitung banyaknya itu. Al- Qur'an diturunkan Allah kepada mereka agar mereka membacanya, memahami isinya dan berbuat menurut petunjuknya.  Dan dengan pertolongan Kitab ini, mereka disuruh untuk menegakkan pemerintahan Allah di muka bumi ini yang berfungsi sesuai dengan hukum Allah. Al-Qur'an datang untuk memberikan kepada mereka kebesaran dan kekuasaan. la datang untuk menjadikan mereka Wakil Allah yang sejati di bumi ini.  Dan sejarah telah membuktikan bahwa bila mana mereka (umat Islam) berbuat menurut petunjuk-petunjuk yang terkandung dalam Kitab ini, maka Kitab ini akan memperlihatkan kemampuannya untuk menjadikan mereka imam dan pemimpin dunia.  Tetapi sekarang, kegunaan al-Qur'an bagi mereka hanyalah untuk disimpan di rumah untuk mengusir jin-jin dan hantu-hantu. Mereka menuliskan ayat-ayat al-Qur'an pada lembaran-lembaran kertas lalu menggantungkannya pada leher mereka, atau mencelupkannya ke dalam air dan kemudian meminum airnya, dan mereka membaca ayat-ayat al-Qur'an tersebut tanpa memahami artinya, namun dengan itu mereka mengharapkan untuk dapat memperoleh sesuatu keberkahan daripadanya.

Mereka tidak lagi mencari petunjuk daripadanya untuk mengatur masalah-masalah kehidupan mereka.  Mereka tidak lagi menjadikan al-Qur'an sebagai pertimbangan untuk mengetahui apa yang harus mereka percayai, apa saja yang harus mereka kerjakan, dan bagaimana mereka harus melakukan transaksi-transaksi.
Mereka menjauhi al-Qur'an dalam menentukan hukum-hukum apa yang harus mereka ikuti dalam mengikat tali persahabatan dan membuat permusuhan, hak-hak apa yang dimiliki sesama manusia atas diri mereka dan juga hak-hak mereka sendiri atas sesama manusia.  Mereka menjauhi al-Our'an dalam menentukan apa yang benar dan apa yang salah, siapa yang harus dipatuhi perintahnya dan siapa pula yang harus ditentang perintahnya, dengan siapa mereka harus memelihara hubungan dan dengan siapa untuk memutuskan hubungan, siapa teman mereka dan siapa musuh mereka, di mana letak kehormatan, kesejahteraan dan keberuntungan mereka, dan di mana letak kehinaan, kegagalan dan kerugian mereka ? Kaum Muslimin tidak lagi memeriksa masalah-masalah ini dengan al-Qur'an.  Mereka sekarang meminta petunjuk tentang masalah-masalah tersebut kepada orang-orang kafir, orang-orang
musyrik, oring-orang yang sesat dan hanya mementingkan diri sendiri, kepada suara-suara iblis yang ada dalam diri mereka sendiri, dan mereka mengikuti apa saja yang dikatakan oleh unsur-unsur tersebut. Karena itu mereka ditimpa bencana yang pasti akan datang, menimpa siapa saja yang melupakan Allah dan yang mengikuti petunjuk selain dari petunjuk-Nya. Bencana itu menimpa mereka sekarang di India, Cina, Palestin, Syria, Algeria, Maghribi dan di negeri-negeri lainnya.
Akan halnya, al-Qur’an sendiri, ia adalah sumber kebaikan yang paling besar.  Al-Qur'an mampu memberikan kepada anda manfaat apa pun yang anda inginkan dan sebanyak apa pun yang anda mau. Kalau dari al-Qur'an yang anda cari hanya manfaat yang kecil dan remeh, seperti untuk mengusir jin dan hantu-hantu, obat untuk orang sakit batuk dan demam, kemenangan dalam pengadilan dan kejayaan dalam mencari kerja, maka yang anda peroleh, memang, hanya hal-hal kecil itu saja.  Bila yang anda cari hanya kekuasaan di atas dunia dan penguasaan terhadap alam semesta maka anda juga akan memperolehnya.  Dan kalau anda menginginkan untuk mencapai puncak kebesaran rohani, al-Qur'an juga akan membawa anda ke sana.  Ini hanyalah soal kemampuan anda untuk mengambil manfaat daripadanya.
Al-Qur'an bagaikan lautan anda hanya mengambil dua titis air daripadanya padahal sebenarnya ia mampu  memberikan air sebanyak lautan itu sendiri.

Saudara-saudaraku !

Apa yang diperbuat saudara-saudara kita sesama Muslim terhadap Kitab-Suci Allah adalah sangat bodoh dan patut ditertawakan.
Seandainya mereka (saudara-saudara kita sesama Muslim) melihat orang lain berbuat seperti itu terhadap sesuatu yang lain, pasti mereka akan mentertawakannya dan menganggapnya sebagai orang gila. Sekiranya ada
orang yang menerima preskripsi dari seorang dokter, lalu preskripsi itu dibungkusnya dengan kain dan digantungkannya di lehernya, atau dicelupkannya ke dalam air dan air itu diminumnya, apa yang akan anda katakan? Tidakkah anda akan mentertawakan dan mengatakan orang itu sebagai orang yang bodoh ? Lihatlah, sekarang ini di depan mata anda semua perbuatan seperti ini sedang dilakukan terhadap preskripsi yang paling berkesan dan tidak ternilai harganya, yang ditulis oleh doktor yang paling besar dari semua doktor, yang dimaksudkan untuk menyembuhkan semua penyakit anda.  Namun tidak seorang pun yang tertawa melihat perbuatan ini ! Tidak seorang pun mencoba mengerti bahwa sebuah preskripsi bukanlah untuk digantungkan di leher atau dicelupkan ke dalam air lalu diminum, tetapi untuk menggunakan obat dengan cara seperti yang ditunjukkan dalam preskripsi itu.

MEMAHAMI ISI AL-QURAN DAN MENGIKUTINYA ADALAH WAJIB

Seandainya anda melihat orang yang sedang sakit membuka buku tentang pengobatan dan mengira bahwa dengan membacanya ia akan dapat sembuh dari penyakitnya, maka apa yang dapat anda katakan tentang orang itu? Tentu anda akan mengatakan bahwa orang tersebut adalah orang yang kurang waras dan harus dikirim ke rumah sakit jiwa ?
Akan tetapi tidakkah anda sadar bahwa anda sendiri melakukan hal yang sama kepada buku yang dikirimkan oleh Doktor terpandai untuk menyembuhkan penyakit-penyakit anda? Anda hanya membacanya saja dan mengira bahwa dengan membacanya begitu saja, semua penyakit anda akan hilang.  Anda mengira bahwa anda sudah cukup dengan membacanya saja tidak perlu untuk menuruti petunjuk-petunjuk yang terkandung di dalamnya, tidak pula penting untuk menghindari bahaya seperti yang dikatakannya.  Maka, mengapa anda tidak memberikan penilaian yang sama kepada diri anda sendiri seperti yang anda berikan kepada orang yang mengira bahwa dengan membaca buku pengobatan saja adalah cukup untuk menyembuhkan penyakit.

Kalau anda menerima surat dalam bahasa yang tidak difahami, tentu anda mencari orang yang mengerti bahasa tersebut untuk mengetahui isinya.  Anda tidak merasa tenang sebelum anda mengetahui isi surat tersebut.  Begitulah yang anda lakukan terhadap surat-surat dagang yang mungkin akan memberikan keuntungan yang sedikit bagi anda.  Akan tetapi surat yang dikirimkan oleh Penguasa dunia kepada anda yang menerangkan semua keuntungan anda di lapangan din yang berkaitan kehidupan duniawi, anda biarkan begitu saja tanpa mencoba untuk memahami isinya.  Anda tidak memperlihatkan keinginan untuk mengetahui isinya.  Tidakkah ini suatu hal yang mengherankan ?

AKIBAT PERLAKUAN YANG ZALIM TERHADAP, KITAB ALLAH

Saudara-saudaraku.....
Saya tidak mengatakan ini semua, hanya untuk memuaskan diri saya sendiri semata.
Tetapi bila anda merenungkan semua kenyataan itu, hati anda akan membenarkan
bahwa sekarang ini Kitab Allah sedang mengalami perlakuan yang zalim  di dunia ini, dan pelaku-pelakunya adalah orang-orang yang menyatakan dirinya sendiri beriman kepadanya dan bersedia mati untuk membelanya.  Tidak syak lagi mereka memang, beriman kepadanya dan menganggapnya lebih berharga daripada hidup mereka sendiri; tetapi sayangnya mereka sendirilah yang memperlakukannya dengan perlakuan yang paling zalim.  Dan akibat  perlakuan yang zalim terhadap Kitab Allah ini jelas kelihatan!

Hendaklah kita fahami sebenar-benarnya bahwa, Kitab Allah tidaklah diturunkan kepada manusia untuk menjerumuskannya ke dalam jurang kecelakaan, kemalangan dan penderitaan.

"Kami tidak menurunkan al-Qur'an ini kepadamu agar kamu menjadi susah, tetapi
sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah).
(Al-Qur'an, Thaha, 20:2-3)

Al-Qur'an adalah sumber kebahagiaan dan nasib baik, bukannya sumber kejahatan dan kesengsaraan. Tidak mungkin suatu umat yang memiliki Wahyu Allah hidup dalam penderitaan di dunia ini, diperbudak, diinjak-injak dan ditendang oleh orang lain, dicekam tengkuknya dan ditusuk hidungnya dan dicampak ke arah mana saja yang disukai orang lain.  Suatu umat hanya akan menemui nasib seperti ini bila mereka memperlakukan Kitab Allah secara zalim.  Nasib Bani Israil terpampang dihadapan anda.  Taurat dan Injil diturunkan kepada mereka dan dikatakan:

“Dan sekiranya mereka sungguh-sungguh menjalankan (hukum) Taurat dan Injil dan al-Qur'an, yang diturunkan kepada mereka dari Tuhannya, niscaya mereka akan mendapat makanan dari atas mereka dan dari bawah kaki mereka".
(Al-Qur'an, al-Maidah, 5:66)

Tetapi mereka memperlakukan Kitab-kitab Allah tersebut dengan cara yang zalim dan mereka memperoleh balasan perbuatan itu:

“...Lalu ditimpakanlah kepada mereka nista dan kehinaan, serta mereka mendapat kemurkaan dari Allah.  Hal itu (terjadi) karena mereka selalu mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa alasan yang benar. Demikian itu (terjadi) karena mereka selalu berbuat durhaka dan melampaui batas".
(Al-Qur'an, al-Baqarah, 2:61)

Karena itu apabila suatu umat memiliki Kitab Allah, namun mereka hidup dalam kehinaan dan diperbudak oleh orang-orang lain, maka anda boleh memastikan bahwa hal itu adalah karena mereka memperlakukan Kitab Allah dengan cara yang zalim, dan apa yang mereka alami itu adalah hukuman atas perbuatan mereka itu.  Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan diri dari murka Allah, selain menghentikan kezaliman tersebut dan juga dengan memperlakukan Kitab Allah dengan semestinya.  Bila anda semua tidak berhenti dari berbuat dosa yang besar ini, maka hidup anda tidak akan berubah meskipun anda mendirikan berbagai perguruan tinggi di setiap desa dan anak-anak anda semua menjadi sarjana, namun anda seperti orang-orang Yahudi, menjadi jutawan-jutawan dengan jalan riba.

Read More......

Kamis, 18 Oktober 2012

5 Prinsip dalam Menyikapi Faham Islam Liberal



Agama atau "dien" di dalam Bahasa Arab berarti aturan yang dipatuhi dan dijadikan sebagai jalan hidup. Ber-agama, katakanlah beragama Islam, itu artinya kita memilih dan menjadikan Islam yang diajarkan oleh Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam , sebagai pedoman atau jalan hidup yang kita tempuh dan kita patuhi selama menjalani kehidupan di dunia ini. Kita patuhi segala aturan dan ajarannya dengan penuh kesadaran, baik dalam kehidupan individu maupun dalam kehidupan kolektif (masyarakat). Memilih Islam sebagai jalan hidup itu juga berarti kita rela dengan segala konsekwensinya, kita yakini dengan sepenuh hati dan penuh kesadaran jiwa dan akal akan apa yang diperin tahkan kepada kita untuk diyakini, dan kita laksanakan semua perintah-perintahnya dengan penuh kesadaran pula, dan kita jauhi larang-larangnya dengan penuh keikhlasan dan ketulus-an hati kepada Allah Subhannahu wa Ta'ala . 

Maka seorang muslim yang baik adalah muslim yang selalu memelihara dan menjaga komitmennya kepada keyakinannya, dan tetap berpegang teguh kepada pendirian dan keyaki-nannya sebagaimana tercermin di dalam ajaran Islam yang ia anut, apa pun resikonya. Itulah arti dari memilih Islam sebagai agama dan the way of life (jalan kehidupan).

Berikut ini beberapa prinsip dasar yang harus tetap kita yakini dan kita pelihara di tengah dahsyatnya kecamuk golombang pemikiran yang sesat dan menyesatkan yang dihembuskan oleh sekelompok orang yang tergabung dalam lingkaran syetan JIL (Jaringan Islam Liberal), pengusung faham Islam Inklusif atau pun Pluralisme, mereka berkeyakinan, bahwa semua agama adalah sama, tidak boleh mengatakan agama sendiri (Islam) yang benar, sebab semuanya adalah benar, semua menuju Tuhan, hanya penamaan Tuhan dan cara beribadahnya saja yang berbeda. Dengan memahami prinsip-prinsip dasar agama Islam, mudah-mudahan kita tidak akan mudah diombang-ambingkan oleh syubhat/kerancuan yang mereka lontarkan, insya Allah.

Prinsip-prinsip dasar yang dimaksud yakni:
  • Prinsip pertama; Kita meyakini dengan sepenuh hati dan seyakin-yakinnya, bahwa hanya Allah yang berhak kita sembah. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Tidak ada sesuatu apa pun yang menyerupai-Nya.

    Prinsip ini jelas manafikan segala macam sesembahan dan obyek ibadah selain Allah, maka penamaan Tuhan (ilah) yang tidak berdasarkan keterangan yang dijelaskan sendiri oleh Allah dan Rasulullah adalah batil. Itu tidak lebih sebagaimana yang dikatakan Allah "asma' sammaitumuha antum wa abaukum" sebutan (nama-nama) Tuhan yang kalian dan moyang kalian julukkan, sama sekali tidak ada hujjah dan sulthan (kekuatan argumen) atasnya.

    Oleh karena itu, menamakan Allah dengan nama Brahma atau Kristus misalnya, serta beribadah kepadanya, maka jelas merupakan kebatilan, karena yang demikian bertentangan dengan prinsip tauhid atau keesaan Allah. Berbeda halnya ketika umat Islam menyebut ar-Rahman atau ar-Rahim, maka yang dituju dan dimaksud tetap Allah juga, karena Allah sendiri telah menyatakan, bahwa Dirinya memiliki nama demikian. Di samping itu, ada masalah yang lebih prinsip lagi yaitu, bahwa masing-masing penyebutan Tuhan di dalam setiap agama memiliki konsep, persepsi dan kaidah yang berbeda-beda yang jelas tidak mungkin bersatu dengan konsep ketauhidannya kaum muslimin. Maka menyamakan prinsip ketuhanan antara Islam dengan agama-agama yang lain, berarti menyamakan Allah dengan ilah-ilah yang lain atau kalau itu diisti-lahkan dalam Bahasa Arab namanya syirik alias menyekutukan Allah.
  • Prinsip ke dua ; Kita yakini, bahwa satu-satunya jalan keselamatan yang dapat mengantarkan kita kepada keridhaan Allah adalah menempuh jalan hidup di atas ajaran Islam yang diajarkan oleh Nabi Muhammad, Shalallaahu alaihi wasalam .

    Memegang prinsip ini berarti menolak tata cara ibadah yang tidak berdasarkan tuntunan yang dibawa oleh Rasulullah , maka tidak berlaku slogan banyak jalan menuju Roma, namun yang berlaku adalah beribadah hanya kepada Allah dengan cara yang telah diajarkan Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam, inilah makna syahadat la ilaha illallah Muhammad Rasulullah. Orang Islam tidak akan mungkin menyembah Allah di Pura dengan tata cara ibadah Hindu, meskipun dengan menyebut nama Allah, atau menyembah dewa Brahma, Kristus di dalam masjid. Demikian pula orang Hindu tidak akan mungkin melakukan shalat di masjid, meskipun dengan menyebut Tuhan mereka. Jika hal itu sampai dilakukan oleh seorang muslim, maka persaksian la ilaha illallah Muhammad rasulullah dengan sendirinya gugur dan batal, maka pengakuan seribu kali sebagai muslim pun tidak berlaku sebelum ia betaubat serta meninggalkan sesembahan selain Allah dan cara ibadah yang di luar Islam itu.

    "Sesungguhnya agama (yang diterima) di sisi Allah adalah Islam". (Ali Imran: 19)
    "Barang siapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali Allah tidak akan menerimanya, dan ia di akhirat kelak termasuk orang-orang yang merugi". (Ali Imran: 85)
    "Pada hari ini telah Kusempurna-kan bagimu agamamu dan telah Kusem-purnakan atasmu karunia-Ku dan Aku ridha Islam sebagai agama bagi kamu". (al-Ma'idah: 3)
  • Prinsip ke tiga; Kita yakin dengan sepenuh hati, bahwa Islam telah mewakili dan sekaligus meng-hapus (muhaiminan `alaih) agama-agama yang pernah diturunkan Allah sebelumnya.

    Dan sebaliknya kita pula meyakini, bahwa agama lain sama sekali tidak dapat dijadikan sebagai jalan menuju keselamatan, sekalipun kata pemeluk-nya merupakan jalan menuju kesela-matan. Karena al-Qur'an, kitab suci kita menginformasikan kepada kita, bahwa ajaran dan kitab suci agama-agama terdahulu (baca: Taurat dan Injil) telah tidak sempurna, mengalami perubahan substansial, diselewengkan (tahrif). Yang demikian itulah yang diajarkan oleh agama Allah. Dan kita wajib meyakini, bahwa siapa saja yang tidak beriman kepada Islam, Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wasalam, dan keesaan Allah (tauhid) yang diajarkan oleh para nabi, adalah kafir dan tempatnya di neraka. Sebab Allah Subhannahu wa Ta'ala. dan Rasul-Nya telah menyatakan demikian!

    "Demi Allah yang jiwa Muhammad ada dalam genggaman-Nya, tiada seorang Yahudi ataupun seorang Nasrani yang mendengar seruanku ini, lalu ia mati (padahal) tidak beriman kepada ajaranku, melainkan ia adalah penghuni neraka." (HR. Muslim dari Abu Hurairah).

    Nabi Shalallaahu alaihi wasalam telah mengisyaratkan bahwa siapa saja dari umat yang dia dakwahi dan atau ia mendengarkan dakwah tersebut, namun tidak mau beriman dengan risalah yang beliau bawa, maka dia pasti menjadi penghuni neraka, tidak peduli Yahudi atau Nashrani.

    Akan tetapi, meskipun kita meyakini, bahwa Islam adalah jalan satu-satunya yang dapat mengantarkan kita kepada keselamatan, ia tidak boleh dipaksakan kepada non muslim untuk meyakini dan mengamalkan ajarannya, apalagi memaksa mereka supaya memeluknya. Sebab Allah telah menegaskan, “Tidak ada paksaan di dalam agama". Namun tugas yang diembankan kepada kita, yaitu me-nyampaikan dan menyosialisasikan ajaran Islam adalah harus dan wajib kita lakukan dengan penuh hikmah, pelan-pelan dan memberikan kesempatan kepada mereka untuk merenung dan berproses secara bertahap.
  • Prinsip ke empat ; Kita wajib mengafirkan mereka (non muslim) atau menyebut mereka sebagai orang kafir.

    Karena Allah telah menyatakan kekafiran mereka, sebagaimana firman-Nya, “Sesungguhnya orang-orang yang kafir dari Ahlu Kitab (Yahudi dan Nasrani) dan orang-orang musyrik, bahwa mereka tidak akan meninggalkan agamanya sebelum datang kepada mere-ka bukti yang nyata". (al-Bayyinah:1)

    "Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata "sesungguhnya Allah itu ialah "Almasih putra Maryam". (al-Ma`idah: 72).
    Demikian pula tentang aqidah trinitasnya kaum Nashara, Allah telah menjelaskan dengan gamblang,
    "Sesungguhnya kafirlah orang- orang yang mengatakan (berkeyakinan) bahwasanya Allah itu salah satu dari yang tiga". (al-Ma`idah:73).

    Meragukan kekafiran mereka adalah bentuk ketidakpercayaan kepada Allah dan firman-Nya dan wujud ketidakberimanan kepada Rasulullah Shalallaahu alaihi wasalam. Maka dari itu para ulama menegaskan, bahwa di antara penyebab seseorang itu murtad, keluar dari Islam adalah "Tidak mengafirkan atau meragukan kekafiran orang-orang kafir", yaitu mereka yang dinyatakan oleh Allah sebagai orang kafir.
  • Prinsip ke lima ; Kita tidak boleh melakukan tindakan tidak beradab, anarkisme, pembunuhan, perusakan dan kekerasan terhadap siapa pun, terhadap orang muslim ataupun orang kafir.

    Selagi orang-orang kafir itu tidak mengganggu atau memerangi kita dalam bentuk apa pun. Bahkan sebaliknya Allah menganjurkan kepada kita agar kita berbuat baik dan berlaku adil terhadap mereka.
    "Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang (kafir) yang tidak memerangimu, karena agama dan tidak (pula) mengusirmu dari negerimu. Sesung-guhnya Allah menyukai orang-orang yang berlaku Adil". (al-Mumtahanah: 8)

    Rasulullah, Shalallaahu alaihi wasalam pun telah bersabda: "Barang siapa yang mengganggu seorang kafir dzimmi, maka aku adalah musuh-nya di Hari Kiamat kelak". (al-Hadits).

Begitu indahnya ajaran Islam yang kita anut ini! Ajarannya penuh dengan keadilan, kesejukan, keramahan dan ketegasan. Betapa indahnya eksklusifisme yang diajarkannya kepada kita! Ia mengajak kita supaya menjadi muslim yang eksklusif! Muslim yang benar-benar menampakkan jati diri, tidak mengkaburkan diri namun adil dan menjunjung tinggi nilai-nilai budi pekerti yang luhur.

Eksklusif tapi tidak anarkis. Eksklusif tapi tidak memaksakan kehendak! Eksklusif tapi tetap bersikap baik terhadap siapa pun selagi tidak disakiti, tidak diganggu dan tidak diperangi! Eksklusif tapi adil! Eksklusif tapi tegas! Eksklusif tapi toleran dengan tidak mencampur baurkan ajaran agamanya dengan ajaran agama lain!

Jika demikian, maka kita kaum muslimin harus bangga dengan Islam yang kita anut, harus bangga menjadi seorang muslim yang eksklusif. "Katakanlah, saksikan, bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang Islam!".

Read More......

Selasa, 02 Oktober 2012

Ratusan menghadiri pemakaman gadis Yanbu dibunuh



   | É PDF Send to Friend Print News |  A A

ARAB NEWS
Minggu 30 September 2012
JEDDAH: Ratusan warga berpartisipasi dalam penguburan Tala Al-Shehri dan membayar belasungkawa kepada orang tua dari gadis yang diduga dibunuh oleh pembantu rumah tangga pada hari Rabu di Yanbu. Doa pemakaman dilakukan pada Jumat di Masjid Omar bin Abdulaziz. 
Pelayan mengaku membunuh gadis dalam penyelidikan polisi awal. 
Almarhum dimakamkan di kuburan Geem 16 daerah. Madinah Pangeran Abdulaziz bin Gubernur Majed menghadiri pemakaman dan mengunjungi keluarga berduka setelah sholat Maghreb.Gubernur duduk dengan ayah almarhum dan menyatakan kesediaannya untuk membantu keluarga dengan apa yang mereka butuhkan. 
Majikan ayah Saudi Aramco juga telah mengirimkan sejumlah karyawan untuk menindaklanjuti urusan keluarga yang dirugikan dan membantu mereka saat pemakaman. 
Ayah Tala Khalid Al-Shehri mengatakan ia tidak tahu tentang kematian putrinya sampai ia terbangun di rumah sakit. Ia terlibat dalam kecelakaan pada hari yang sama kejahatan itu terjadi. "Belum pernah saya harapkan ini dari seorang wanita yang bekerja untuk saya selama bertahun-tahun. Tapi saya percaya pada Qadar (takdir Allah). " 
Dia mengatakan dia tidak pernah melihat perilaku buruk di pembantu selama bertahun-tahun dengan keluarganya. "Ketika istri saya menelepon dan mengatakan kepada saya dia tidak bisa membuka pintu apartemen (pembantu dan putri berada di dalam dan ibu guru baru saja tiba dari tempat kerja) karena terkunci dari dalam, saya pikir ada sesuatu yang salah tetapi tidak pernah diharapkan bahwa dia membunuh anak saya. " 
Tala memiliki tiga saudara perempuan. Yara dan Lama berada di sekolah menengah dan Jana adalah di sekolah dasar. Ketiga adalah dengan ibunya ketika ia memasuki rumah dengan Pertahanan Sipil pada hari Rabu. Ibu runtuh dan dipindahkan ke rumah sakit bersama dengan anak perempuan yang berada di shock. 
Sebuah delegasi dari Komisi Hak Asasi Manusia di Makkah berpartisipasi dalam pemakaman dan bertemu dengan keluarga. Sebelum membayar belasungkawa kepada keluarga, delegasi mengunjungi Penjara Yanbu dan berbicara kepada pembantu rumah tangga yang hanya mengatakan ibu "tidak menyukainya" dan tidak ada lagi. Dia muncul dalam kesehatan yang baik. 
Ibu Tala mengatakan hubungannya dengan pelayan yang baik dan keluarga diperlakukan kanannya.Dia telah menerima semua gaji nya. 
Sebuah sumber polisi mengatakan pembantu telah benar-benar pulih dari efek mengkonsumsi deterjen dalam usaha bunuh diri setelah pembunuhan itu

Read More......

Minggu, 19 Agustus 2012

Muhasabah Paska Ramadhan

Adopted from Yusuf Mansyur Network.

Detik-detik perginya tamu agung nan suci ini, adalah layak kita mempertanyakan kembali dengan serius kepada setiap pribadi kita, “sudahkah kita meraih predikat takwa yang dijanjikan Allah bagi orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, atau minimal sudah melekat kah pada diri dan masyarakat kita sebagian dari karakteristik orang-orang yang bertakwa(muttaqiin)?”. Sejatinya, yang bisa memutuskan seseorang sudah meraih gelar takwa atau belum memang hanyalah Allah Swt. Namun begitu, beberapa indikator bisa kita jadikan pegangan untuk menilai pribadi kita pasca Ramadhan nanti. Artinya, meski yang menilai seseorang sudah meraih predikat takwa atau belum hanya Allah, namun kita telah diberikan petunjuk untuk menilai diri kita dengan patokan mendekati dan mengarah kepada para Nabi dan Shahabatnya sebagai manusia yang pasti ketaqwaannya

Apakah karakteristik yang Allah sebut dalam Alquran melekat erat pada diri pribadi orang-orang yang meraih derajat muttaqin sudah melekat pada diri kita?. Dan tulisan ini hanya mencoba mengajak kita semua untuk bertafakkur dan bermuhasabah tentang sejauh mana kualitas ibadah puasa Ramadhan yang saban tahun kita kerjakan. Bukan untuk menilai sesorang belum bertakwa atau sudah meraih derajat mulia tersebut.

Para ulama mendefinisikan takwa ini dengan ungkapan: “Menaati Allah dan tidak maksiat, selalu berdzikir dan tidak lupa, senantiasa bersyukur dan tidak kufur”. Dari definis ini kita bisa berkesimpulan, bahwa takwa adalah kalimat yang singkat namun kaya makna, mencakup seluruh tuntunan yang dibawa Islam; akidah, ibadah, muamalah dan akhlak. Dan takwa bukanlah kalimat yang hanya sekedar diucapkan, atau hanya sekedar klaim tanpa bukti. Tapi takwa adalah perbuatan dalam rangka ketaatan kepada Allah dan tidak melakukan maksiat kepada-Nya.

Pada prinsipnya, puasa Ramadhan akan selalui ditandai dengan transformasi dalam diri pelakunya serta masyarakat sekitarnya dengan mengalirnya amal saleh yang tiada putus-putusnya serta berbagai perbuatan terpuji lainnya. Bila setelah Ramadhan seseorang selalu berbuat baik, serta bisa memberikan sumbangsih untuk perubahan masyarakat di sekitarnya sampai ia menghadap Allah Swt, maka jelas ia akan tergolong kelompok manusia yang meraih gelar takwa dan pahala yang akan kelak ia dapatkan adalah surga.

Dan sebaliknya, jika setelah melaksanakan ibadah Ramadhan seseorang masih seperti sebelum melaksanakan Ramadhan maka bisa dipastikan Ramadhannya tidak berkah dan ia gagal meraih predikat takwa. Namun begitu, kita memang tidak bisa menilai apakah seseorang itu benar-benar mencapai gelar takwa atau tidak. Itu hak Allah. Namun kita bisa mengenali ciri-ciri orang yang meraih gelar takwa antara lain adalah; terjadinya perubahan pribadi ke arah yang positif. Perubahan ini mencakup hubungan vertikal (dengan Allah) dan horizontal (dengan lingkungan sekitar), juga mencakup kualitas ibadah jasmani dan rohani.

Sebagian dari dampak ibadah puasa Ramadhan bagi pelakunya adalah terjadinya perubahan kualitas perilaku ke arah yang lebih baik dan lebih terpuji. Indikator diraihnya gelar takwa pasca Ramadhan adalah jika pelakunya patuh melaksanakan apa yang diperintahkan oleh Allah Swt dan meninggalkan apa yang dilarangNya, baik semasa Ramadhan maupun nanti pasca Ramadhan. Ada banyak kriteria orang yang bertakwa yang disebutkan dalam Alquran maupun sunnah. Diantara kriteria tersebut adalah, beriman, senantiasa mendirikan shalat, menunaikan zakat/menafkahkan sebagian harta, selalu menepati janji, sabar, selalu berdo’a kepada Allah, benar, tetap taat dan mengingat Allah, selalu beristighfar(meminta ampun) dan taubat kepada Allah dari semua dosanya. Disamping itu, menahan amarah, suka memaafkan, selalu berbuat baik, tidak melakukan perbuatan keji, shalat tahajjud, amalan-amalan tersebut selalu dilakukan oleh yang bertakwa.

Kriteria berikutnya adalah ia akan memiliki sifat dan sikap terpuji seperti sabar, syukur, tawakkal, pemaaf, tawadlu dan sebagainya. Ia juga akan malu kepada Allah Swt utk melakukan perbuatan yang dilarang-Nya. Bersemangat dan sungguh-sungguh dalam menambah dan mengembangkan ilmu pengetahuan terutama ilmu-ilmu Islam. Kemudian ia juga akan senantiasa bekerja keras dan tekun untuk memenuhi keperluan hidup dirinya, keluarganya dan dalam rangka membantu orang lain serta berusaha untuk tidak membebani dan menyulitkan orang lain.

Indikator takwa yang lain adalah ia akan konsekuen meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah Swt, terutama dosa-dosa besar, seperti syirik, riba, judi, zina, khamr, korupsi, membunuh orang, bunuh diri, bertengkar, menyakiti orang lain, khurafat, bid'ah dan sebagainya. Dia juga akan gemar melakukan ibadah wajib, sunat dan amal shalih lainnya serta berusaha meninggalkan perbuatan yang makruh dan tidak bermanfaat. Aktif berkiprah dalam memperjuangkan, menda'wahkan Islam dan istiqamah serta sungguh-sungguh dalam melaksanakan amar ma'ruf dengan cara yang ma'ruf, melaksanakan nahi munkar tidak dengan cara munkar.

Artinya ia akan memiliki komitmen yang total untuk mentaati Allah Swt dan tunduk kepada-Nya, bukan saja selama puasa Ramadhan, melainkan kapan saja dan di mana saja ia berada. Puasa Ramadhan tidak akan bermakna jika pasca Ramadhan seseorang tidak menyadari identitas kehambaanya kepada Allah Swt. Tuntunan syetan kembali diagungkan. Merebut harta haram(KKN) dan kemaksiatan menjadi kebiasaannya sehari-hari.

Selain itu, orang-orang yang bertakwa akan cepat melakukan taubat apabila terlanjur melakukan kesalahan dan dosa, tidak membiasakan diri proaktif dengan perbuatan dosa, tidak mempertontonkan dosa dan tidak betah dalam setiap aktivitas berdosa. Sungguh-sungguh memanfaatkan segala potensi yang ada pada dirinya untuk melakukan berbagai transformasi sosial serta menolong orang lain dan menegakkan "Izzul Islam wal Muslimin" atau kejayaan Islam dan kaum Muslimin.

Untuk meraih predikat takwa diperlukan proses yang berkelanjutan, tidak hanya memada dengan puasa ramadhan. Takwa dibentuk melalui proses pembinaan yang kontinu/berkelanjutan menuju ke tingkat ketakwaan yang tinggi yaitu takwa khawwash al-khawwash. Secara rinci, pembentukan karakter takwa, selain puasa Ramadhan juga dapat direalisasikan melalui upaya-upaya relegius sebagai berikut: seperti, membaca Alquran, mengkaji dan merenungi maknanya (khususnya yang dengan ancaman Allah bagi orang-orang yang berbuat maksiat), serta melaksanakan isi kandungannya(tidak memada semata hanya belajar dan mengajarinya). Kemudian puasa, baik puasa wajib (ramadhan) maupun yang sunat.

Read More......